A.    Latar Belakang.

Setiap gereja memiliki ciri khasnya tersendiri. Sama seperti manusia sejak dilahirkan memiliki  keunikan tersendiri. Pada dasarnya setiap  manusia yang dilahirkan ke dunia dia harus menerima sebagaimana Tuhan menciptakannya. Bagaimana bentuk wajahnya, sifat dan karakternya Tuhan sudah merancangnya begitu sempurna. Ada yang cantik ada yang kurang cantik[1]. Oleh karena itu kita menerima keunikan masing-masing sebagai ciptaan Allah,Kita tidak  bisa memilih apalagi memprotes mengapa kita dilahirkan memiliki keunikan tertentu, dan mengapa tidak sama dengan orang lain. Setiap orang yang memprotes mengapa ia dilahirkan seperti apa ia  adanya, dan menginginkan ia seperti orang lain, atau paling tidak seperti yang ia sukai,orang seperti ini  tergolong manusia yang tidak mau bersyukur. Rasul Paulus menuliskan kepada jemaat di Roma .

Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?” (Roma 9:21)

 

Inilah hak prerogatif Allah yang dalam bahasa teologi disebut dengan soverein of God atau kedaulatan Allah. Allah menciptakan manusia itu serupa dengan gambar Allah (Imago Dei) tetpi memiliki keunikan tersendiri. Demikian juga Allah memberikan  kepada setiap Gereja atau denominasi tertentu ciri khas dan oleh karena itulah ke tujuh gereja, Efesus, Filadepia, Pergamus dll  yang ada di kitab wahyu tidak ada yang sama.

Demikian juga setiap gereja Tuhan atau denominasi memiliki ke khasan tertentu. Pada saat berdirinya, Tuhan memberikan ciri khas tertentu yang gereja atau denominasi  lain tidak memilikinya. Gereja Pentakosta Inonesia memiliki beberapa ciri khas yang gereja lain tidak memilikinya. Salah satu ciri khas yang dibawa lahir pada saat berdirinya adalah Jalang- Jalang Marisi yang oleh generasi berikut[2] disingkat dengan JJM. Tidak ada hamba Tuhn yang mengajarkan agar warga jemaat melakukan Jalang-jalang Marisi, itu muncul sendiri dari kesadaran warga jemaat[3]. Jadi JJM ini bukan ide yang timbul setelah Gereja Pentakosta Indonesia berdiri, tetapi ia ada sejak kelahirannya. Karena para warga jemaat melihat keseriusan para hamba Tuhan yang tanpa pamrih perg untuk memberitakan Injil, maka tergeraklah hati warga jemaat untuk menyalami hamba Tuhan dengan materi atau buah



[1] Menurut manusia, kalau menurut Tuhan apa yang Dia ciptakan selalu sempurna walaupun  menurut manusia kurang sempurna.

[2] Penulis memakai istilah ini menggantikan generasi penerus karena alasan tertentu.

[3] Diucapkan Pendeta Umum Gereja Pentakosta Indonesia Rev.DR. M.H. Siburian M.Min pada saat Jambore Nasional Pemuda GPI di Parbaba Samosir.

 

tanaman, dengan maksud agar mereka jangan terhalang untuk memberitakan injil. Jadi Jalang-jalang Marisi adalah buah pemberian seseorang kepada hamba Tuhan tertentu karena perduli dan mendukung pelayanannya, dan  sekaligus sebagai  ucapan syukur kepada Tuhan karena ia telah mendengarkan Firman Tuhan yang mempengaruhi hidupnya.

Apabila kita melihat JJM ini dari perspektif gereja lain, kadang-kadang geli melihatnya. Suatu ketika salah seorang menantu[1] pendeta GPI melihat para pendeta GPI berdiri di depan lalu disalami oleh anggota jemaat, maka ia merasa kasihan karena dianggap hamba Tuhan itu sama seperti pengemis. Ada juga pada saat orang lain melihat kejadian ini, anak-anak[2] diluar GPI mengatakan bahwa ini seperti korupsi. Jadi apabila kita melihat budaya JJM ini dari kaca mata orang lain maka sudah pasti geli melihatnya, persis seperti kita melihat budaya orang  lain. Tetapi bagi pemilik budaya itu sudah merupakan bahagian dari hudup mereka atau yang dalam istilah budaya disebut World Vew. Selain itu walaupun secara lahiriah seseorang memiliki budaya tertentu (karena keturunan) apabila ia tidak mengerti makna budaya tersebut iapun merasa geli juga  melihat orang yang menerapkan budaya tersebut. Sebut saja misalnya koteka[3] bagi suku Papua, kita pasti geli melihatnya. Akan tetapi bagi mereka itu adalah kebanggaan tersendiri.[4]atau orang Papua yang lahir di Jakarta pulang ke Papua pasti geli melihat orang yang masih pakai koteka.

Satu illustrasi yang dapat membantu pemahaman kita, tentang seorang anak yang geli melihat tangan ibunya yang jelek akibat terbakar. Suatu ketika satu keluarga yang punya bayi mengalami kebakaran. Pada saat ibunya lari meninggalkan apai, ia sadar bahwa anaknya yang masih bayi ada di kamar tersendiri. Pada saat ia mencoba untuk menyelamatkan bayi tersebut, ia berusaha agar anak ini tidak terbakar, sehingga ia berusaha menghalau bara apai yang hampi kena sama wajah anaknya. Oleh karena itu anak ini selamat dari apai, tetapi tangan bunya terbakar, yang mengakibatkan banyak kerut, dan sudah pasti kerutan ini geli kelihatanya.

Pada saat anak ini besar, ia punya pacar yang cantik sekali. Kalau pacarny diundang ke rumah, maka ia menyuruh ibunya untuk membungkus tangannya dengan sarung tangan. Ibunya selalu menurut karena ia sangat mengasihi anaknya, oleh karena si Ibu ini tidak ingin anaknya ditinggal pacarnya karena tangannya yang jelek itu.

Suatu ketika si anak penasaran mengapa tangan ibunya begitu jelek. Pada awalnya ibunya enggan bercerita, tetapi karena desakan si anak akhirnya si ibu menceritakannya secara detil. Setelah ia mendengar cerita ibunya, ia berubah sikap melihat tangan ibunya yang jelek itu. Setelah itu ia berkata kepada ibunya “ Ibu mulai hari ini apabila saya membawa pacar saya, ibu tidak boleh pakai sarung tangan lagi. Kalau bagi orang lain tangan ubu sangat menggelikan, bagi saya itu adalah tangan yang manis, tangan dari orang yang sangat mengasihi saya, tida ada tangan lain yang bisa mengimbangi tanga ibu ini. Dia bilang vinilah tangan nomor satu bagi saya.

Dari cerita ini, saya  mencoba mengajak generasi berikut untuk merenungkan makna JJM yang ada di Gereja Pentakosta Indonesia. Bahwa JJM ini telah banyak membawa perubahan bagi generasi berikut, termasuk saya dan Anda sekalian.

A.    MAKNA JJM  DARI PERPEKTIF ALKITAB.

Paulus menuliskan suratnya kepada Jemaat Filipi;Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu.” [5] Jalang-jalang Marisi harus kita tinjau dari sudut kebenaran Firman Tuhan di atas. Kata pemberian  dalam ayat di atas menunjuk kepada buah tangan atau materi yang diberikan dengan tulus hati kepada seorang hamba Tuhan. Buah adalah hasil dari pemberian itu, karena digerakkan oleh Tuhan untuk mendukung pelayanan seorang hamba Tuhan dan karena tergerak hatinya untuk  bersyukur setelah mendengarkan Firman Tuhan. Jadi pemberian bertujuan untuk mendukung orang yang menerima berkat yang diberikan, sedangkan buah bertujuan untuk melimpahi  berkat Tuhan kepada si pemberi dengan tulus hati.

Menurut Paulus yang paling diuntungkan dari  peristiwa JJM adalah orang yang menberikan, bukan orang yag menerima pemberian itu. Setiap buah yang dihasilkan oleh keinginan memberi kepada hamba Tuhan akan  berdampak luar biasa kepada orang yang memberikannya. Oleh karena itu Firman Tuhan berkata,

“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."[6]

 

Pada awal mula anggota jemaat Gereja Pentakosta Indonesia adalah orang – orang kelas bawah. Orang yang tidak terpandang di masyarakat. Kalau kita lihat perkembangan kehidupan[7] sudah banyak yang berhasil. Ini disebabkan oleh berkat Tuhan yang mengalir kepada keturunan dari setiap warga jemaat yang selalu memperhatikan para hamba Tuhan Gereja Pentakosta Indonesia khususnya lewat JJM. Menurut penulis bahwa keluarga yang memiliki keinginan untuk memberi kepada hamba Tuhan keturunannya pasti[8] diberkati oleh Tuhan. Oleh karena itu maka memberi bagi orang percaya khususnya bagi warga jemaat dan pata hamba Tuhan di GPI  harus menjadi gaya hidup. Sorotan kita dalam hal memberi atau JJM ini bukan kepada hamba Tuhan melainkan kepada orang yang memberikannya. Apabila hal ini kita coba hentikan, maka secar tidak sadar kita menghalangi berkat yang turun atas gereja Pentakosta Indonesia.

Senada dengan ayat di atas, Tuhan Yesus memberikan standart tentang bagaimana warga jemaat diberkati, karena memperhatikan hamba Tuhan, sebagai utusan Allah.

“ Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” [9]

 

Kita perhatikan bagaimana Yesus dengan lugas dan terang menekankan bahwa dampak utama dari pemberian yang kita lakukan adalah  kepada kita sendiri (si pemberi). Apabila seseorang menyambut (memperlakukan ) seorang nabi sebagai nabi, maka orang yang melakukannya itu akan mendapat upah seorang nabi. Ini luar biasa. Kalau kita menyambut seorang benar[10] sebagai orang benar, maka kita yang menerima upah orang benar. Sehingga apapun yang kita lakukan dalam pelayanan, jangan melihat manfaat kepada orang yang kita berikan, tetapi kepada kita yang memberikan.

Kembali kepada terjadinya JJM di GPI, pada awalnya memang warga jemaat ingin berpartisipasi terhadap pemberitaan injil. Warga jemaat  memikirkan transport dari para pelayan Tuhan agar mereka bisa menjangkau gereja atau jiwa-jiwa yang perlu mendengarkan berita injil. Tetapi dibalik itu Allah selalu membalaskan kepada setiap orang yang memberikan dengan sukacita. Walaupun orang yang melakukannya belum mengerti atau tidak mengetahui makna teologis dari pemberiannya tersebut, tetapi di balik semuanya itu Allah membalaskan sesuai dengan pemberiannya yang dilakukan dengan hati yang tulus. Yesus berkata

“Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya[11] telah menjamu malaikat-malaikat.”[12]

Jadi ketidaktahuan kita tentang makna atau fadah dari pemberian kita, tidak menghambat turunnya berkat kepada yang memberikan. Oleh karena itu sudah seyogianya kita umat GPI berpikir bahwa memberi bukan pilihan, melainkan harus menjadi gaya hidup. Tuhan tidak pernah salah atau berdusta. Apa yang kita tabur pasti kita  tuai asalkan  kita tidak menjadi lemah.Rasul Paulus menuliskan kepada jemaat Kolose,

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.”[13]

 

Apabila memberi menjadi gaya hidup maka sudah  sepantasnya kita tidak melihat pribadi  orang yang memberitakan  Firman tersebut. Lepas dari suka atau tidak suka, maka apabila ada hamba Tuhan Yang melayani Firman, maka kita harus menghormatinya sebagai hamba Tuhan dan jika kita memberi, maka kita memberikannya seperti untuk Tuhan maka kita akan menerima upah dari Tuhan.

Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.[14]

 

Ada satu hal yang perlu kita ketahui tentang Gereja Pentakosta Indonesia. Bentuk pemerintahannya memang unik juga. Dalam Anggaran Dasar Gereja Pentakosta Inonesia pasal 1 poin 4 berbunyi:

 “ GEREJA PENTAKOSTA INDONESIA adalah gabungan semua sidang-sidang jemaat GEREJA PENTAKOSTA INDONESIA yang berada di dalam dan di luar wilayah Indonesia.”.

 

Pasal 1 Poin 4 ini menerangkan bahwa seluruh hamba Tuhan Gereja Pentakosta Indonesia yang adalah hamba Tuhan bersama. Hanya daerah kerja yang berbeda-beda. Pengangkatan dan pentahbisan hamba Tuhanpun diadakan pada saat synode besar atau synode kerja tahunan. Demikian juga  apabila seorang hamba Tuhan (guru, sintua, pendeta) berkunjung ke suatu daerah, mengunjungi sidang atau karena berkunjung ke keluarga, dan bila hamba Tuhan tersebut beribadah dalam sidang tertentu diutamakan untuk melayani Firman Tuhan. Ini tidak ada kita jumpai dalam denominasi lain.

 

B.     KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas, maka ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik seperti berikut:

1.         JJM di Gereja Pentakosta Indonesia adalah nilai tersendiri, dan bukan  di ajarkan tetapi muncul karena kesadaran sendiri dari warga jemaat, sehingga menjadi ciri khas tersendiri, oleh karena itu perlu kita pertahankan.

2.        Cara pandang terhadap JJM jangan kita sorot terhadap hamba Tuhan yang menerima, melainkan kepada orang yang memberi. Karena yang paling diuntungkan adalah orang yang memberi dengan sukacita yang oleh Firman Tuhan disebut  “buah” .

3.   JJM mengajarkan atau melatih warga Jemaat, agar memberi bukan menjadi pilihan, tetapi menjadi gaya hidup.

4.         Peristiwa rohani ini mengakibatkan terjalinnya hubungan yang erat antara warga jemaat dengan hamba Tuhan, antara warga gereja yang satu dengan hamba Tuhan dari sidang yang lain, sehingga timbullah hubungan yang harmonis, dan pada akhirnya timbullah keseimbangan.

5. kirim ke teman | versi cetak

Berita "Kotbah" Lainnya

Malu

M A L U Rev. M.H. SIburian Rasa malu adalah salah satu alat kontrol yang mensensor kharakter manusia, kalau alat sensor ini rusak maka kara..... [Read more]




Kuasa Darah

  KUASA DARAH   Rev. MH. Siburian Manusia harus diselamatkan dari konsekwensi dosa. Caranya adalah dengan mengampuninya, namun pengampunan..... [Read more]




Berhala Baru

BERAHALA BARU Rev. M.H. Siburian   Negerinya penuh dengan berhala-berhala; mereka sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri dan kepada ya..... [Read more]




POWER LOOK: TEMPORER DAN BERUBAH-UBAH, BAHKAN MENGELABUI

POWER LOOK: TEMPORER DAN BERUBAH-UBAH, BAHKAN MENGELABUI Rev. MH. Siburian   Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengempang-ngem..... [Read more]




Domba Paskah

DOMBA PASKAH Rev. M.H. Siburian   DAN DARAH ITU MENJADI TANDA BAGIMU PADA RUMAH –RUMAH DIMANA KAMU TINGGAL:APABILA AKU MELIHAT DARAH ITU, ..... [Read more]