M A L U

Rev. M.H. SIburian

Rasa malu adalah salah satu alat kontrol yang mensensor kharakter manusia, kalau alat sensor ini rusak maka karakter manusia ibarat sumur yang tidak bertembok sembarang air kotor dapat masuk kedalam dan bersatu dengan air yang bersih.

Zaman sekarang para pembentuk kharakter manusia mencoba menipiskan emosi malu ini. Mereka tahan bekerja dengan muka marah menahan malu sehingga menjadi kebiasaan yang dirasa wajar. Mereka sibuk membangun sikap keras kepala tanpa memperdulikan “emosi malu”, dari baju mandi yang sangat minim (bikini) dan nyaris membuat telanjang sampai kepada seni tari, diskotik yang sensual yang dengan bebas dipertunjukkan di TV, bahkan juga sampai kepada theologia baru yang sangat permisip. Orang tua muda yang tidak pernah mengenyam tebalnya “rasa malu zaman dulu” dengan tidak sadar telah terbentuk oleh keadaan ini. seorang rakyat yang awam sampai seorang Presiden Negara Besar dapat kehilangan rasa malu yang dapat membuat mereka melakukan sesuatu tanpa berfikir dua kali, walaupun mereka tahu bahwa itu melanggar hukum, konstitusi atau rasa keagamaan. Mereka tidak perduli sebab sensornya telah menipis atau hilang sama sekali. Pengkotbah Hosea mengatakan ini sebagai: “makin bertambah banyak mereka, makin berdosa mereka kepadaku, kemuliaan mereka akanKu tukar dengan kehinaan (Hosea 4:7).

Allah menempatkan emosi (rasa) malu ini sebagi alat refleksi rohani atau moral I dalam sistem hidup manusia. Rasa malu ini tidak dapat dibuang dari manusia seperti: membuang usus buntu atau amandel yang kalaupun dibuang tidak akan berakibat apa-apa. Emosi malu ini akan tetap ada di dalam hidup manusia seperti rasa lapar, rasa haus dan rasa lelah, maka tiba-tiba sistem tubuhnya collaps dan mati karena tidak diberi makan, minum dan istirahat.

Awalnya rasa malu ini datang dari pelanggaran atau dosa seperti apa yang terjadi pada Adam dan Hawa. Seharusnya signal malu ini akan muncul setiap kali, ada kecenderungan untuk melakukan pelanggaran spiritual atau moral dalam bentuk apapun. Bila tidak maka manusia aakan terjebak dalam kondisi dimana produk kemanusiaannya tidak akan melalui “chek and ricek” para orang tua, anak, awam, pendeta, wartawan, kalangan eksekutif, kalangan yudikatif, bahkan kalangan pembuat hukum atau Undang-Undang akan bertindak tanpa sensor dan hasilnya dapat dibayangkan bila diaplikasikan di tengah masyarakat bayak, bila mereka semua tidak lagi mempunyai alat refleksi moral tadi. Produknya adalah produk tanpa malu.

Banyaknya pencopet, perusuh, perampok, pemerkosa, koruptor dan sebut banyak tindakan yang negatif lainnya, tidaklah datang dalam satu hari. Itu dimulai dengan tipisnya rasa malu untuk berbuat sesuatu yang melanggar dat kebiasaan yang baik, hukum atau peraturan. Itu dimulai dengan keinginan-keinginan yang tidak di sensor dimana Rasul Yakobus berkata bahwa: “apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa, dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut (Yakobus 1:15).

Maut yang barang kali kita alami sekarang terjadi dari hasil proses yang sadar atau tidak sadar sudah berjalan lama sekali sehingga kita pun tidak tahu, bahwa kita sendiri telah menjadi mangsanya.

Dalam Nats di atas Rasul Paulus, bertanya: buah apakah yang kamu petik daripadanya? Kalau dalam istilah zaman sekarang Paulus bertanya: “apa untungnya, yang kamu peroleh?” nampaknya adalah satu tindakan yang tidak waras untuk menanam modal kepada sesuatu yang tidak akan menghasilkan keuntungan. Inilah sebenarnya yang persis terjadi bila bertindak tanpa sensor, tanpa cermin atau refleksi dalam kehidupan ini maka pada akhirnya kita akan menuai hasil yang tidak menguntungkan bahkan juga maut. Kita tidak akan dapat menghindar dari perbuatan dosa bila sensor emosi malu kita telah rusak sama sekali dan pada hakekatnya “setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa adalah pelanggaran hukum Allah (I Yohannes 3:3).

Bagaimana kita memelihara sensor ini. Manusia diciptakan sebagai makhluk 3 dimensi yaitu Roh, Jiwa dan Tubuh. Tubuh adalah bahagian luar dari kita yang nampak oleh mata yang pada dasarnya dikendalikan oleh sistem tubuh yang sangat kompleks yang tentu mempunyai juga sensor-sensor yang sudah melekat di dalamnya. Namun manusia juga adalah Roh dan Jiwa yang menjadi “inner being” atau manusia Batiniah sebagai “makhluk dalam” dari diri kita. Inilah yang paling perlu untuk dipelihara dengan baik. Manusia Batiniah ini harus berjalan terbalik dengan tubuh (fisik) kita. Kalau tubuh fisik kita semakin hari semakin tua, loyo dan akhirnya mati maka manusia dalam kita justru semakin hari semakin diperbaharui, Rasul Paulus mengatakan: “tetapi meskipun manusia Lahiriah kami semakin merosot, namun manusia Batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari (II Korintus 4:16).” Bila kita menelantarkan manusia lahirlah kita sensornya akan jalan, kita mungkin akan sakit kepala, perut kita akan kejang, pulsa jantung kita akan naik turun dan kemudian kita tahu bahwa sesuatu yang salah sedang terjadi di dalam tubuh kita. Demikian pula dengan manusia Batiniah. Kita tidak boleh menafsirkan bahwa manusia Batiniah kita memerlukan sensor yang setiap saat harus berbunyi setiap kali kita melangkah melampaui garis batasnya.

Manusia harus membayar harganya setiap kali melampaui garis karena mengabaikan bunyi sensornya atau karena sensornya sama sekali tidak berfungsi. Dalam bentuk apapun kita berbuat pelanggaran walaupun telah dilegitimasi secara hukum, cepat atau lambat kita akan membayarnya, mungkin berlipatganda, bagaikan belanja di Super Market, setiap barang telah tercantum harganya. Itulah yang terjadai kepada Kain yang membunuh saudaranya, kepada Sodom dan Gumora yang bangga hidup dalam kenistaan, kepada Daud yang mengambil isteri orang lain dengan licik dan hanya diketahui olehnya dan Tuhan. Bukankah mereka semua mencoba untuk hidup tanpa sensor tanpa rasa malu, baik terhadap Tuhan, masyarakat atau diri sendiri.

Apakah keuntungan yang kita peroleh dari semuanya itu. Hanya penderitaan dan gema-gema yang berbalik menghantam kita sendiri. Apakah yang kita capai atau selesaikan dalam hidup ini, pengaruh apakah yang kita tebarkan di setiap jalan-jalan kampung dan kota kita, terhadap masyarakat, anak-anak, dan generasi kita? Bukankah: “hikmat lebih baik daripada alat-alat perang, tetapi satu orang yang keliru dapat merusakkan banyak hal yang baik (Pengkotbah 9:14). Jangankan banyak yang keliru, satu orang yang keliru sudah cukup untuk merusakkan banyak hal yang baik.

Apakah kita malu? Ataukah kita masih mempunyai emosi malu bila…ya..maka kita masih dapat memperbaiki hidup ini, tetapi bila… tidak.. maka kita akan meneruskan hidup tanpa sensor, tanpa signal yang mengawasi segala tindakan kita. Allah memberikan kepada kita emosi malu agar kita senantiasa berjalan sesuai dengan kehendakNya. ( editor SM )

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Kotbah" Lainnya

Kuasa Darah

  KUASA DARAH   Rev. MH. Siburian Manusia harus diselamatkan dari konsekwensi dosa. Caranya adalah dengan mengampuninya, namun pengampunan..... [Read more]




Berhala Baru

BERAHALA BARU Rev. M.H. Siburian   Negerinya penuh dengan berhala-berhala; mereka sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri dan kepada ya..... [Read more]




POWER LOOK: TEMPORER DAN BERUBAH-UBAH, BAHKAN MENGELABUI

POWER LOOK: TEMPORER DAN BERUBAH-UBAH, BAHKAN MENGELABUI Rev. MH. Siburian   Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengempang-ngem..... [Read more]




Domba Paskah

DOMBA PASKAH Rev. M.H. Siburian   DAN DARAH ITU MENJADI TANDA BAGIMU PADA RUMAH –RUMAH DIMANA KAMU TINGGAL:APABILA AKU MELIHAT DARAH ITU, ..... [Read more]




Mengapa Judi

MENGAPA JUDI Rev. M.H. Siburian Si pemalas dibunuh oleh keinginannya karena tangannya enggan bekerja. Keinginan bernafsu sepanjang hari, tetapi ora..... [Read more]