Gereja Pentakosta Indonesia - Official Website
Rubrik : Renungan
Dasar Hidup Berkemenangan
2011-05-24 12:29:50 - by : samuel_manalu


DASAR HIDUP BERKEMENANGAN


Oleh : St.
Lomser Hutabalian


PENGANTAR


 Setiap orang di dunia ini, pastilah
menghendaki agar dia memiliki hidup yang berhasil/berkemengan. Orang-orang
dunia biasanya menghendaki keberhasilan dalam hal materi atau kekayaan dan
kedudukan sedangkan anak-anak Tuhan harus melihat keberhasilan dari sisi rohani
dimana setiap orang percaya berhasil menjalani kehidupan itu dalam setiap
situasi dan kondisi. Kekayaan dan kemiskinan, kedudukan atau jabatan; baik itu
di dunia sekuler dan pelayanan, bukan merupakan alat ukur kehidupan yang
berkemenangan atau berhasil.


Tentu di sini tidak bermaksud bahwa kekayaan atau
jabatan penting itu tidak perlu. Justru kalau kita diberi kekayaan dan jabatan
penting baik di dunia sekuler dan kerohanian kita bisa melakukan banyak hal,
namun satu hal penting dalam konteks berkemenangan adalah bahwa di dalam
semuanya itu, kita menjalaninya dengan berlaku setia dihadapan Tuhan.


HIDUP YANG BERKEMENANGAN ADALAH HASIL DARI SEBUAH
PROSES.


Hidup berkemenangan tidak datang secara tiba-tiba
dan instant, melainkan adalah hasil dari sebuah proses yang panjang.
Pembentukan karakter dari kecil akan mempengaruhi kehidupan seseorang yang
berhasil di kemudian hari. Keterbukaan hati untuk mengalami proses Allah akan
menghasilkan hidup yang berkemenangan.


Belajar dari proses yang dialami para
murid
.


Murid-murid Yesus mengalami penggemblengan selama
3.5 tahun. Siang dan malam mereka bersama-sama dengan Tuhan, mereka belajar dan
praktek langsung. Kalau kita pelajari proses perjalanan iman para murid itu di
dalam kitab injil adalah sbb:


1. Mereka percaya kepada Yesus ketika mereka
dipanggil.


2. Mereka mengikut (bersama-sama) Yesus.


3. Mereka diajari dan melihat pekerjaan Kristus.


4. Mereka mengalami pekerjaan Kristus di dalam
diri mereka.


Mereka akhirnya berhasil dalam pelayanan mereka
dan pada akhirnya mereka keluar sebagai pemenang-pemenang iman. Dalam kehidupan
orang-orang kristen kita banyak menemukan orang-orang yang menyebut diri mereka
orang percaya. Kepercayaan yang diterima secara tradisi dari pernyataan orang
tua atau orang lain. Mereka mau mengikut Yesus sebatas datang beribadah, tetapi
mereka tidak mau belajar mengenal Allah lewat firman-Nya dan tidak ada
kesungguhan hati untuk mengikuti firman itu.


Orang-orang seperti ini tidak sungguh-sungguh
percaya, karena itu tidak dapat mengalami pekerjaan Kristus di dalam diri
mereka.


Belajar dari proses yang dialami Rasul
Paulus


Setelah Paulus terpanggil, Ia mengikuti perkataan
Yesus untuk bertemu dengan Ananias (Kis.9). Tidak lama kemudian, Ia pergi ke
tanah Arab (Gal. 1:17) yang diyakini secara tradisi untuk belajar, dan masa itu
merupakan masa perenungan untuk menemukan benang merah antara ilmu Perjanjian
Lama yang dimiliki dengan penyataan diri Yesus kepadanya dengan murid-murid.


Yang menarik dari proses pertobatan Paulus ini
adalah ketika Tuhan menyatakan diri kepadanya, ia yang tadinya adalah orang
yang gagah perkasa, orang yang cerdik pandai dalam lingkungan agama Yahudi dan
orang-orang Farisi, menjadi orang yang tidak berdaya sama sekali. Hikmat dan
keperkasaan yang dia miliki menjadi tidak berarti apa-apa. Perjumpaan Paulus
dengan Ananias menjadi sangat penting sebelum Rasul Paulus memulai perjalanan
pelayanannya. Dia mengalami pemulihan mata-nya dan penuh dengan Roh Kudus
melalui menumpangan tangan Ananias.


Dari pengalaman ini kita belajar untuk mengalami
hidup yang berkemenangan adalah membuka diri kepada Tuhan. Jangan mengandalkan
kekuatan dan hikmat diri sendiri karena itu tidak berarti apa-apa apabila
berhadapan dengan Tuhan, tatapi harus penuh dengan Roh Kudus. Mengandalkan Roh
Kudus itu penting dan mutlak.


Rasul Paulus juga mengibaratkan hidup beriman itu
layaknya sebuah pertandingan atau perjuangan. Dalam 2 Timotius 4:7 dikatakan:
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir
dan telah memelihara iman”. Tentu untuk keluar sebagai pemenang ada harga yang
harus dibayar, disipline untuk berlatih, korban waktu , tenaga dan materi dan
tentu bersandar pada pertolongan Roh Kudus.


Dari 1 Korintus 9:24-26 kita menemukan
kalimat-kalimat penting yaitu “larilah begitu rupa”, “menguasai diri”, “tidak
berlari tanpa tujuan”, ‘bukan petinju yang sembarang saja memukul” dan “melatih
tubuhku”. Ini berbicara bahwa untuk mengalami hidup yang berkemenangan perlu
proses dimana ada penguasaan diri, disiplin, berlatih keras, memiliki teknik
dan sasaran yang jelas.


HIDUP YANG BERKEMENANGAN ADALAH MENGENAL JATI
DIRI ALLAH


Ada
sebuah statement yang mengatakan bahwa hal terindah dalam hidup adalah mengenal
Allah. Statement ini benar adanya dan sangat berpengaruh kepada hidup yang
berkemenangan. Yeremia 9:24 mengatakan “Tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah
bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah
TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; semua itu
Kusukai, demikianlah firman Tuhan.”


Kita perlu mengenal Tuhan. Dan pengenalan itu
bukanlah proses yang singkat. Meskipun Tuhan tidak dapat dikenal secara
sempurna karna keterbatasan manusia (Roma 11:33-34), namun Tuhan menyatakan
diri-Nya untuk keperluan kita (Gal. 1:12; bandingkan “asas-asas pokok dari
penyataan Allah – Ibr. 5:12). Kita bersyukur bahwa Allah menyatakan diri-Nya
lewat Yesus Kristus.


Dari Alkitab kita bisa mengerti bahwa Allah itu
Kasih (2 Kor.13:11; 1 Yoh. 4:8,16, dll), Dia adalah Raja (Yer. 10:10, Maz.44:5;
1 Tim 1;17, dll), Juru Selamat (Yes. 49:26; Luk. 2:11; 1 Tim. 4:10) , Bapa (2
Sam. 7:14; 1 Kor. 8:6), Gembala Agung (Maz. 23:1; Yoh. 10:11,14; 1 Pet. 5:4,
dll), Penolong (Maz. 146:5; Ibr.13:6, dll), Penasehat Ajaib (Yes. 9:5, Flp.
2:1, dll).


Pengenalan seseorang akan Allah akan mempengaruhi
sikap, jalan pikiran dan tindakan-tindakannya. Orang yang tidak mengenal Tuhan
akan menjalani kehidupan yang bertentangan dengan kebenaran Tuhan. Seberapa
besar pengenalan kita akan Tuhan, maka sebesar itulah kita dapat berpikir,
beriman dan mengalami kuasa Tuhan dalam hidup kita. Oleh karena kita mengenal
kasih-Nya bagi kita maka kita mempunyai keberanian untuk menghadap tahta
kemuliaan-Nya. (Ibrani 4:15-16).


Menyadari pentingnya pengenalan akan Allah, Rasul
Paulus dalam suratnya kepada jemaat di di Efesus menuliskan doanya “Dan meminta
kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia
memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan
supaya supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan
apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian
yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi
kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya” (Efesus, Ef. 1:17-19).


HIDUP YANG BERKEMENANGAN ADALAH MENGENAL JATI
DIRI KITA


Sejalan dengan perlunya kita mengenal Tuhan, kita
pun perlu mengenal jati diri kita. Bercermin kepada firman Tuhan, kita akan
melihat siapa diri kita sebelum menerima Yesus dan setelah menerima penebusan
yang dikerjakan Yesus Kristus.


Kalau Allah itu Kasih maka kita adalah sebagai
objek tempat kasih itu dinyatakan, Kalau Dia adalah Raja maka kita adalah
bangsa dalam kekuasaan-Nya, Kalau Dia adalah Juru Selamat maka kita adalah
orang berdosa yang diselamatkan dari penghakiman, Kalau Dia adalah Bapa maka
kita adalah anak-anak Allah yang menjadi ahli waris, Kalau Dia adalah Gembala Agung
maka kita adalah domba-domba kepunyaan-Nya, Kalau Dia adalah Penolong maka kita
adalah orang-orang yang lemah, malang dan menderita yg ditolong, Kalau Dia
adalah Penasehat Ajaib maka kita adalah orang-orang yang bodoh, yang tidak tahu
apa yang baik bagi kita namun Dia menasehati dan menuntun kita.


PENUTUP


Setiap orang di dunia ini, pastilah menghendaki
agar dia memiliki hidup yang berkemengan. Sebagai anak-anak Tuhan berkemengan
harrus dilihat dari sisi rohani dimana setiap orang percaya berhasil menjalani
kehidupan itu dalam setiap situasi dan kondisi.


Hidup berkemengan itu tidak datang secara instant
namun membutuhkan proses yang tidak singkat, dimana dibutuhkan penguasaan diri,
disiplin, latihan yang keras, dll.


Hidup berkemenangan itu juga tidak terlepas dari
pengenalan kita akan Allah. Apabila kita mengerti dan bertindak atas pengenalan
kita akan jati diri Allah dan jati diri kita, maka kita akan menjalani
kehidupan yang berkwalitas dan berkemenangan.


 

Gereja Pentakosta Indonesia - Official Website : http://www.pentakosta.org/
Versi Online : http://www.pentakosta.org//?pilih=news&aksi=lihat&id=101