Website Resmi Gereja Pentakosta Indonesia
Rubrik : ILUSTRASI
Masih Ada Hari Esok
2011-05-26 15:11:20 - by : samuel_manalu


Masih ada hari Esok



Pada suatu tempat,
hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua
dan sanak keluarganya. Tetapi, dia tidak pernah mensyukuri betapa baiknya
kehidupan yang dia miliki. Dia terus bermain, menggangu sanak keluarganya kalau
mereka tidak mau bermain apa yang dia ingin main. Tetapi, ketika dia mau minta
maaf, dia selalu berkata, "Tidak apa-apa, besok kan bisa." Ketika
agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman,
dan sangat bahagia. Tetapi, dia nggak pernah mensyukurinya. Semua begitu saja
dijalaninya, sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi
dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak tidak pernah
mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasan
dia, "Tidak apa-apa, besok kan bisa." Ketika dia agak besar, teman
baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia masih sering melihat temannya
itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Tapi itu bukanlah masalah, karena
dia masih punya banyak teman baik yang lain. Dia dan teman-temannya hampir
melakukan segala sesuatu bersama-sama, makan, main, kerjakan PR, dan
jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik.


Setelah
lulus, kerja membuatnya sibuk.
Dia ketemu seorang cewek yang sangat cantik dan baik dan segera dia menjadi
pacarnya. Dia begitu sibuk dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke
posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin. Tentu, dia rindu sama
teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka lagi, bahkan
lewat telepon. Dia selalu berkata, "Ah, aku capek, besok saja aku hubungin
mereka." Ini tidak terlalu mengganggu dia karena dia punya teman-teman
sekerja selalu mau diajak keluar. Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali
untuk menelepon teman-temannya.


Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja
lebih keras agar dalam membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli
bunga untuk istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga
hari pernikahan mereka. Tapi, itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu
mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya. Tentu, kadang-kadang dia merasa
bersalah dan sangat ingin punya kesempatan untuk mengatakan pada istrinya
"Aku cinta kamu", tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasan dia, "Tidak apa-apa, saya pasti besok
akan mengatakannya." Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun
anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini akan berpengaruh pada anak-anaknya.
Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu
mereka dengan ayahnya. Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas
dalam kecelakaan. Dia ditabrak lari. Tapi hari itu, dia sedang ada rapat. Dia
tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan
dijemput maut. Sebelum sempat berkata "Aku cinta kamu", istrinya
meninggal. Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba mencari menghibur diri
melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya. Tapi, dia baru sadar
anak-anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya. Segera, anak-anaknya
dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli sama
orang tua ini yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk
mereka.


Dia
pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik
dengan uang yang dia simpan untuk perayaan pernikahan ke 50, 60, dan 70 dia dan
istrinya. Semua uang itu sebenarnya untuk dipakai pergi ke Hawaii, New Zealand,
dan negara-negara lain, tapi kini dipakai untuk membayar biaya tinggal dia di
rumah jompo tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua
dan suster yang merawatnya. Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang
tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Saat dia mau meninggal, dia memanggil
seorang suster dan berkata padanya, "Ah, andai saja aku menyadari ini dari
dulu...."
Dan dia meninggal dengan airmata di pipinya.


Apa yang saya ingin coba katakan pada kamu, waktu
itu nggak pernah berhenti. Kamu
terus maju dan maju, sebelum kamu sadar itu, kamu telah maju terlalu jauh. Jika
kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah! Jika kamu merasa ingin mendengar
suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya segera. Terakhir, tapi
ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin bilang sama seseorang
bahwa kamu sayang dia, jangan tunggu sampai terlambat. Jika kamu terus pikir
bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu dia, hari ini tidak pernah akan
datang. Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang, maka "besok"
akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar waktu telah meninggalkanmu.
Jangan tunda kirim email ini ke sahabat-sahabat Anda... atau masih ada hari
esok.


 

Website Resmi Gereja Pentakosta Indonesia : http://www.pentakosta.org/
Versi Online : http://www.pentakosta.org//?pilih=news&aksi=lihat&id=110