Gereja Pentakosta Indonesia - Official Website
Rubrik : ILUSTRASI
Penjual Tempe
2011-05-26 15:20:46 - by : samuel_manalu


Penjual Tempe


Peristiwanya terjadi di sebuah desa di Jawa
Tengah. Seorang ibu setengah baya tersebut sehari-harinya adalah penjual tempe
di desanya. Tempe yang djualnya merupakan tempe yang dibuatnya sendiri. Pada
suatu hari, seperti biasanya, pada saat ia akan pergi ke pasar untuk menjual
tempenya, ternyata pagi itu, tempe yang terbuat dari kacang kedele itu masih
belum jadi tempe alias masih setengah jadi.


Ibu ini sangat sedih hatinya.
Sebab jika tempe tersebut tidak jadi berarti ia tidak akan mendapatkan uang
karena tempe yang belum jadi tentunya tidak laku dijual. Padahal mata
pencaharian si ibu hanyalah dari menjual tempe saja agar ia dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dalam suasana hatinya yang sedih, si ibu yang
memang aktif beribadah di gerejanya teringat akan firman Tuhan yang menyatakan
bahwa Tuhan dapat melakukan perkara-perkara ajaib, bahwa bagi Tuhan tiada yang
mustahil.


Lalu iapun tumpang tangan diatas tumpukan beberapa batangan kedele yang
masih dibungkus dengan daun niawann pisang tersebut. "Bapak di Surga, aku
mohon kepadaMu agar kedele ini menjadi tempe.
Dalam nama Jesus, Amin." Demikian doa singkat si Ibu yang dipanjatkannya
dengan sepenuh hatinya. Ia yakin dan percaya pasti Tuhan menjawab doanya.


Lalu, dengan tenang ia menekan-nekan dengan ujung jarinya bungkusan bakal tempe tersebut. Dengan
hati yang deg-degan ia mulai membuka sedikit bungkusannya untuk melihat mujijat
kedele jadi tempe
terjadi.


Lalu apa yang terjadi dengan kaget dia mendapati bahwa kedele tersebut
.......... masih tetap kedele. Si Ibu tidak kecewa. Ia berpikir bahwa mungkin
doanya kurang jelas didengar Tuhan. Lalu kembali ia tumpang tangan diatas
batangan kedele tersebut. "Bapa di surga, aku tahu bahwa bagiMu tiada yang
mustahil. Tolonglah aku supaya hari ini aku bisa berdagang tempe
karena itulah mata pencaharianku Aku mohon dalam nama Yesus jadilah ini menjadi
tempe. Dalam
nama Yesus, Amin."


Dengan iman iapun kembali membuka sedikit bungkusan tersebut. Lalu apa yang
terjadi? Dengan kaget ia melihat bahwa kacang kedele tersebut .?????? masih
tetap begitu! Sementara hari semakin
siang dimana pasar tentunya akan semakin ramai. Si ibu dengan tidak merasa
kecewa atas doanya yang belum terkabul, merasa bahwa bagaimanapun sebagai
langkah iman ia akan tetap pergi ke pasar membawa keranjang berisi barang
dagangannya itu. Ia berpikir mungkin mujijat Tuhan akan terjadi di tengah
perjalanan ia pergi ke pasar. Lalu iapun bersiap-siap untuk berangkat ke pasar.


Semua keperluannya untuk
berjualan tempe seperti biasanya sudah disiapkannya. Sebelum beranjak dari
rumahnya, ia sempatkan untuk tumpang tangan sekali lagi. "Bapa di surga,
aku percaya Engkau akan mengabulkan doaku. Sementara aku berjalan menuju pasar,
Engkau akan mengadakan Mujijat buatku. Dalam nama Yesus, Amin."


Lalu ia pun berangkat. Di sepanjang
perjalanan ia tidak lupa menyanyikan beberapa lagu puji-pujian. Tidak lama
kemudian sampailah ia di pasar. Dan seperti biasanya ia mengambil tempat untuk
menggelar barang dagangannya. Ia yakin bahwa tempenya sekarang pasti sudah
jadi. Lalu iapun membuka keranjangnya dan pelan-pelan menekan-nekan bungkusan
dengan jarinya pada tiap bungkusan yang ada. Perlahan ia membuka sedikit daun
pembungkusnya dan melihat isinya. Apa yang terjadi? Ternyata saudara-saudara
.???????? tempenya benar benar ...????????????? belum jadi!


Si Ibu menelan ludahnya. Ia tarik
napas dalam-dalam. Ia mulai kecewa pada Tuhan karena doanya tidak dikabulkan.
Ia merasa Tuhan tidak adil. Tuhan tidak kasihan kepadanya. Ia hidup hanya
mengandalkan hasil menjual tempe saja. Selanjutnya, ia hanya duduk saja tanpa
menggelar dagangannya karena ia tahu bahwa mana ada orang mau membeli tempe
yang masih setengah jadi.


Sementara hari semakin siang dan
pasar sudah mulai sepi dengan pembeli. Ia melihat dagangan teman-temannya
sesama penjual tempe yang Tempenya sudah hampir habis. Rata-rata tinggal
sedikit lagi tersisa. Si ibu tertunduk lesuh. Ia seperti tidak sanggup
menghadapi kenyataan hidupnya hari itu. Ia hanya bisa termenung dengan rasa
kecewa yang dalam. Yang ia tahu bahwa hari itu ia tidak akan mengantongi uang
sepeserpun.


Tiba-tiba ia dikejutkan dengan
sapaan seorang wanita. "Bu?..! Maaf ya, saya mau tanya. Apakah ibu menjual
tempe yang belum jadi ???" Soalnya dari tadi saya sudah keliling pasar
mencarinya." Seketika si ibu tadi terperangah. Ia kaget. Sebelum ia
menjawab sapaan wanita di depannya itu, dalam hati cepat-cepat ia berdoa
"Tuhan?.saat ini aku tidak butuh tempe lagi. Aku tidak butuh lagi. Biarlah
daganganku ini tetap seperti semula. Dalam nama Yesus, dalam nama Yesus, Amin."


Tapi kemudian, ia tidak berani
menjawab wanita itu. Ia berpikir jangan-jangan selagi ia duduk-duduk termenung
tadi, tempenya sudah jadi. Jadi ia sendiri saat itu dalam posisi ragu-ragu
untuk menjawab ya kepada wanita itu. Bagaimana nih?" ia pikir. "
Kalau aku katakan iya, jangan-jangan tempenya sudah jadi. Siapa tahu tadi sudah
terjadi mujijat Tuhan?" Ia kembali berdoa dalam hatinya, "Ya, Tuhan,
biarlah tempeku ini tidak usah jadi tempe lagi. Sudah ada orang yang
kelihatannya mau beli. Tuhan tolonglah aku kali ini. Tuhan dengarkanlah doaku
ini.." ujarnya berkali-kali.


Lalu, sebelum ia menjawab wanita
itu, ia pun membuka sedikit daun penutupnya. Lalu . . . ?? apa yang dilihatnya.
Saudara-Saudara .???? Ternyata ..?? Ternyata ..????? Memang benar tempenya
belum jadi. Ia bersorak senang dalam hatinya. Puji Tuhan?.Puji Tuhan, katanya.
Singkat cerita wanita tersebut memborong semua dagangan si ibu itu.


Sebelum wanita itu pergi, ia
penasaran kenapa ada orang yang mau beli tempe yang belum jadi. Ia bertanya
kepada si wanita. Dan wanita itu mengatakan bahwa anaknya di Yogya mau tempe
yang berasal dari desa itu. Berhubung tempenya akan dikirim ke Yogya jadi ia
harus membeli tempe yang belum jadi, supaya agar setibanya disana, tempenya
sudah jadi. Kalau tempe yang sudah jadi yang dikirim maka setibanya disana
nanti tempe tersebut sudah tidak bagus lagi dan rasanya sudah tidak enak lagi.


Apa yang bisa kita simpulkan dari
kesaksian ini ? Pertama: Kita sering memaksakan kehendak kita kepada Tuhan pada
waktu kita berdoa padahal sebenarnya Tuhan lebih mengetahui apa yang kita
perlukan.


Kedua: Tuhan menolong kita dengan
caraNya yang samasekali di Luar perkiraan kita sebelumnya.


Ketiga: Tiada yang mustahil bagi
Tuhan


Keempat: Percayalah bahwa Tuhan
akan menjawab doa kita sesuai dengan rancanganNya.


 

Gereja Pentakosta Indonesia - Official Website : http://www.pentakosta.org/
Versi Online : http://www.pentakosta.org//?pilih=news&aksi=lihat&id=112