Website Resmi Gereja Pentakosta Indonesia
Rubrik : Kotbah
Makna JJM (Jalang Jalang Marisi) di GPI
2012-07-04 19:56:06 - by : admin


 


A.    Latar Belakang.


Setiap gereja memiliki
ciri khasnya tersendiri. Sama seperti manusia sejak dilahirkan memiliki  keunikan tersendiri. Pada dasarnya setiap  manusia yang dilahirkan ke dunia dia harus
menerima sebagaimana Tuhan menciptakannya. Bagaimana bentuk wajahnya, sifat dan
karakternya Tuhan sudah merancangnya begitu sempurna. Ada yang cantik ada yang
kurang cantik[1]. Oleh karena itu kita menerima
keunikan masing-masing sebagai ciptaan Allah,Kita tidak  bisa memilih apalagi memprotes mengapa kita
dilahirkan memiliki keunikan tertentu, dan mengapa tidak sama dengan orang
lain. Setiap orang yang memprotes mengapa ia dilahirkan seperti apa ia  adanya, dan menginginkan ia seperti orang
lain, atau paling tidak seperti yang ia sukai,orang seperti ini  tergolong manusia yang tidak mau bersyukur. Rasul
Paulus menuliskan kepada jemaat di Roma .


Apakah tukang
periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang
sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain
untuk dipakai guna tujuan yang biasa?” (Roma 9:21)


 


Inilah hak prerogatif
Allah yang dalam bahasa teologi disebut dengan soverein of God atau kedaulatan Allah.
Allah menciptakan manusia itu serupa dengan gambar Allah (Imago Dei) tetpi
memiliki keunikan tersendiri. Demikian juga Allah memberikan  kepada setiap Gereja atau denominasi tertentu
ciri khas dan oleh karena itulah ke tujuh gereja, Efesus, Filadepia, Pergamus
dll  yang ada di kitab wahyu tidak ada
yang sama.


Demikian juga setiap gereja Tuhan atau
denominasi memiliki ke khasan tertentu. Pada saat berdirinya, Tuhan memberikan
ciri khas tertentu yang gereja atau denominasi  lain tidak memilikinya. Gereja Pentakosta
Inonesia memiliki beberapa ciri khas yang gereja lain tidak memilikinya. Salah
satu ciri khas yang dibawa lahir pada saat berdirinya adalah Jalang- Jalang
Marisi yang oleh generasi berikut[2] disingkat dengan JJM. Tidak ada hamba Tuhn yang mengajarkan agar warga jemaat
melakukan Jalang-jalang Marisi, itu muncul sendiri dari kesadaran warga jemaat[3].
Jadi JJM ini bukan ide yang timbul setelah Gereja Pentakosta Indonesia berdiri,
tetapi ia ada sejak kelahirannya. Karena para warga jemaat melihat keseriusan
para hamba Tuhan yang tanpa pamrih perg untuk memberitakan Injil, maka
tergeraklah hati warga jemaat untuk menyalami hamba Tuhan dengan materi atau
buah







[1] Menurut manusia, kalau menurut Tuhan apa yang Dia ciptakan selalu sempurna
walaupun  menurut manusia kurang
sempurna.




[2] Penulis memakai istilah ini menggantikan generasi penerus karena alasan
tertentu.




[3] Diucapkan Pendeta Umum Gereja Pentakosta Indonesia Rev.DR. M.H. Siburian M.Min
pada saat Jambore Nasional Pemuda GPI di Parbaba Samosir.


 



tanaman, dengan maksud
agar mereka jangan terhalang untuk memberitakan injil. Jadi Jalang-jalang Marisi adalah buah pemberian seseorang kepada hamba
Tuhan tertentu karena perduli dan mendukung pelayanannya, dan  sekaligus sebagai  ucapan syukur kepada Tuhan karena ia telah
mendengarkan Firman Tuhan yang mempengaruhi hidupnya
.


Apabila kita melihat JJM
ini dari perspektif gereja lain, kadang-kadang geli melihatnya. Suatu ketika
salah seorang menantu[1] pendeta GPI melihat para pendeta GPI berdiri di depan lalu disalami oleh
anggota jemaat, maka ia merasa kasihan karena dianggap hamba Tuhan itu sama seperti
pengemis. Ada juga pada saat orang lain melihat kejadian ini, anak-anak[2] diluar GPI mengatakan bahwa ini seperti korupsi. Jadi apabila kita melihat
budaya JJM ini dari kaca mata orang lain maka sudah pasti geli melihatnya,
persis seperti kita melihat budaya orang  lain. Tetapi bagi pemilik budaya itu sudah merupakan bahagian dari hudup
mereka atau yang dalam istilah budaya disebut World Vew. Selain itu walaupun
secara lahiriah seseorang memiliki budaya tertentu (karena keturunan) apabila
ia tidak mengerti makna budaya tersebut iapun merasa geli juga  melihat orang yang menerapkan budaya
tersebut. Sebut saja misalnya koteka[3] bagi suku Papua, kita pasti geli melihatnya. Akan tetapi bagi mereka itu adalah
kebanggaan tersendiri.[4]atau
orang Papua yang lahir di Jakarta pulang ke Papua pasti geli melihat orang yang
masih pakai koteka.


Satu illustrasi yang
dapat membantu pemahaman kita, tentang seorang anak yang geli melihat tangan
ibunya yang jelek akibat terbakar. Suatu ketika satu keluarga yang punya bayi
mengalami kebakaran. Pada saat ibunya lari meninggalkan apai, ia sadar bahwa
anaknya yang masih bayi ada di kamar tersendiri. Pada saat ia mencoba untuk
menyelamatkan bayi tersebut, ia berusaha agar anak ini tidak terbakar, sehingga
ia berusaha menghalau bara apai yang hampi kena sama wajah anaknya. Oleh karena
itu anak ini selamat dari apai, tetapi tangan bunya terbakar, yang
mengakibatkan banyak kerut, dan sudah pasti kerutan ini geli kelihatanya.


Pada saat anak ini
besar, ia punya pacar yang cantik sekali. Kalau pacarny diundang ke rumah, maka
ia menyuruh ibunya untuk membungkus tangannya dengan sarung tangan. Ibunya
selalu menurut karena ia sangat mengasihi anaknya, oleh karena si Ibu ini tidak
ingin anaknya ditinggal pacarnya karena tangannya yang jelek itu.


Suatu ketika si anak
penasaran mengapa tangan ibunya begitu jelek. Pada awalnya ibunya enggan
bercerita, tetapi karena desakan si anak akhirnya si ibu menceritakannya secara
detil. Setelah ia mendengar cerita ibunya, ia berubah sikap melihat tangan ibunya
yang jelek itu. Setelah itu ia berkata kepada ibunya “ Ibu mulai hari ini
apabila saya membawa pacar saya, ibu tidak boleh pakai sarung tangan lagi.
Kalau bagi orang lain tangan ubu sangat menggelikan, bagi saya itu adalah
tangan yang manis, tangan dari orang yang sangat mengasihi saya, tida ada
tangan lain yang bisa mengimbangi tanga ibu ini. Dia bilang vinilah tangan
nomor satu bagi saya.


Dari cerita ini,
saya  mencoba mengajak generasi berikut
untuk merenungkan makna JJM yang ada di Gereja Pentakosta Indonesia. Bahwa JJM
ini telah banyak membawa perubahan bagi generasi berikut, termasuk saya dan
Anda sekalian.


A.    MAKNA JJM  DARI PERPEKTIF ALKITAB.


Paulus menuliskan
suratnya kepada Jemaat Filipi;
Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang
makin memperbesar keuntunganmu
.” [5] Jalang-jalang Marisi harus kita tinjau dari sudut kebenaran Firman Tuhan di
atas. Kata pemberian  dalam ayat di atas menunjuk kepada buah
tangan atau materi yang diberikan dengan tulus hati kepada seorang hamba Tuhan.
Buah adalah hasil dari pemberian itu,
karena digerakkan oleh Tuhan untuk mendukung pelayanan seorang hamba Tuhan dan
karena tergerak hatinya untuk  bersyukur setelah
mendengarkan Firman Tuhan. Jadi pemberian bertujuan untuk mendukung
orang yang menerima berkat yang diberikan, sedangkan buah bertujuan untuk
melimpahi  berkat Tuhan kepada si pemberi
dengan tulus hati.


Menurut
Paulus yang paling diuntungkan dari  peristiwa JJM adalah orang yang menberikan, bukan orang yag menerima
pemberian itu. Setiap buah yang dihasilkan oleh keinginan memberi kepada hamba
Tuhan akan  berdampak luar biasa kepada
orang yang memberikannya. Oleh karena itu Firman Tuhan berkata,


“Dalam
segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja
demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat
perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih
berbahagia memberi dari pada menerima."[6]


 


Pada awal mula anggota jemaat Gereja Pentakosta
Indonesia adalah orang – orang kelas bawah. Orang yang tidak terpandang di
masyarakat. Kalau kita lihat perkembangan kehidupan[7] sudah banyak yang berhasil. Ini disebabkan oleh berkat Tuhan yang mengalir
kepada keturunan dari setiap warga jemaat yang selalu memperhatikan para hamba
Tuhan Gereja Pentakosta Indonesia khususnya lewat JJM. Menurut penulis bahwa
keluarga yang memiliki keinginan untuk memberi kepada hamba Tuhan keturunannya
pasti[8] diberkati oleh Tuhan. Oleh karena itu maka memberi bagi orang percaya khususnya
bagi warga jemaat dan pata hamba Tuhan di GPI  harus menjadi gaya hidup. Sorotan kita dalam hal memberi atau JJM ini
bukan kepada hamba Tuhan melainkan kepada orang yang memberikannya. Apabila hal
ini kita coba hentikan, maka secar tidak sadar kita menghalangi berkat yang
turun atas gereja Pentakosta Indonesia.


Senada dengan ayat di atas, Tuhan Yesus memberikan standart
tentang bagaimana warga jemaat diberkati, karena memperhatikan hamba Tuhan,
sebagai utusan Allah.


“ Barangsiapa
menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan
barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah
orang benar. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah
seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya
ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” [9]


 


Kita perhatikan
bagaimana Yesus dengan lugas dan terang menekankan bahwa dampak utama dari
pemberian yang kita lakukan adalah  kepada kita sendiri (si pemberi). Apabila
seseorang menyambut (memperlakukan ) seorang nabi sebagai nabi, maka orang yang
melakukannya itu akan mendapat upah seorang nabi. Ini luar biasa. Kalau kita
menyambut seorang benar[10] sebagai orang benar, maka kita yang menerima upah orang benar. Sehingga apapun
yang kita lakukan dalam pelayanan, jangan melihat manfaat kepada orang yang
kita berikan, tetapi kepada kita yang memberikan.


Kembali kepada
terjadinya JJM di GPI, pada awalnya memang warga jemaat ingin berpartisipasi
terhadap pemberitaan injil. Warga jemaat  memikirkan transport dari para pelayan Tuhan agar mereka bisa menjangkau
gereja atau jiwa-jiwa yang perlu mendengarkan berita injil. Tetapi dibalik itu
Allah selalu membalaskan kepada setiap orang yang memberikan dengan sukacita.
Walaupun orang yang melakukannya belum mengerti atau tidak mengetahui makna
teologis dari pemberiannya tersebut, tetapi di balik semuanya itu Allah
membalaskan sesuai dengan pemberiannya yang dilakukan dengan hati yang tulus.
Yesus berkata


“Jangan
kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian
beberapa orang dengan tidak diketahuinya[11] telah menjamu malaikat-malaikat.”[12]


Jadi ketidaktahuan kita tentang makna
atau fadah dari pemberian kita, tidak menghambat turunnya berkat kepada yang
memberikan. Oleh karena itu sudah seyogianya kita umat GPI berpikir bahwa memberi
bukan pilihan, melainkan harus menjadi gaya hidup. Tuhan tidak pernah salah
atau berdusta. Apa yang kita tabur pasti kita  tuai asalkan  kita tidak menjadi
lemah.Rasul Paulus menuliskan kepada jemaat Kolose,


“Apa pun juga
yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan
bukan untuk manusia.Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian
yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.”[13]


 


Apabila memberi menjadi gaya hidup maka
sudah  sepantasnya kita tidak melihat
pribadi  orang yang memberitakan  Firman tersebut. Lepas dari suka atau tidak
suka, maka apabila ada hamba Tuhan Yang melayani Firman, maka kita harus
menghormatinya sebagai hamba Tuhan dan jika kita memberi, maka kita
memberikannya seperti untuk Tuhan maka kita akan menerima upah dari Tuhan.


Demikian
pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup
dari pemberitaan Injil itu.[14]


 


Ada satu hal yang
perlu kita ketahui tentang Gereja Pentakosta Indonesia. Bentuk pemerintahannya
memang unik juga. Dalam Anggaran Dasar Gereja Pentakosta Inonesia pasal 1 poin
4 berbunyi:


 “ GEREJA PENTAKOSTA INDONESIA adalah gabungan
semua sidang-sidang jemaat GEREJA PENTAKOSTA INDONESIA yang berada di dalam dan
di luar wilayah Indonesia.”.


 


Pasal 1 Poin 4 ini menerangkan bahwa seluruh hamba
Tuhan Gereja Pentakosta Indonesia yang adalah hamba Tuhan bersama. Hanya daerah
kerja yang berbeda-beda. Pengangkatan dan pentahbisan hamba Tuhanpun diadakan
pada saat synode besar atau synode kerja tahunan. Demikian juga  apabila seorang hamba Tuhan (guru, sintua,
pendeta) berkunjung ke suatu daerah, mengunjungi sidang atau karena berkunjung
ke keluarga, dan bila hamba Tuhan tersebut beribadah dalam sidang tertentu
diutamakan untuk melayani Firman Tuhan. Ini tidak ada kita jumpai dalam
denominasi lain.


 


B.     KESIMPULAN


Dari pembahasan di atas, maka ada beberapa
kesimpulan yang dapat ditarik seperti berikut:


1.         JJM di Gereja
Pentakosta Indonesia adalah nilai tersendiri, dan bukan  di ajarkan tetapi muncul karena kesadaran
sendiri dari warga jemaat, sehingga menjadi ciri khas tersendiri, oleh karena
itu perlu kita pertahankan.


2.        Cara pandang
terhadap JJM jangan kita sorot terhadap hamba Tuhan yang menerima, melainkan
kepada orang yang memberi. Karena yang paling diuntungkan adalah orang yang
memberi dengan sukacita yang oleh Firman Tuhan disebut  “buah” .


3.   JJM mengajarkan
atau melatih warga Jemaat, agar memberi bukan menjadi pilihan, tetapi menjadi
gaya hidup.


4.         Peristiwa rohani
ini mengakibatkan terjalinnya hubungan yang erat antara warga jemaat dengan
hamba Tuhan, antara warga gereja yang satu dengan hamba Tuhan dari sidang yang
lain, sehingga timbullah hubungan yang harmonis, dan pada akhirnya timbullah
keseimbangan.


5.

Website Resmi Gereja Pentakosta Indonesia : http://www.pentakosta.org/
Versi Online : http://www.pentakosta.org//?pilih=news&aksi=lihat&id=136