Gereja Pentakosta Indonesia - Official Website
Rubrik : Kotbah
Memberi Dalam Kasih Karunia
2012-07-31 13:04:50 - by : admin


Saudara-saudara, kami hendak
memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan
berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya
dalam kemurahan
.Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut
kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.
Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka
juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam
pelayanan kepada orang-orang kudus
. Karena kamu telah mengenal kasih
karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi
miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh
karena kemiskinan-Nya
.


 


Firman Tuhan di atas,
dituliskan oleh Rasul Pulus kepada jemaat Korintus untuk memotivasi mereka agar
memberi dengan sukacita. Paulus memulai dengan menceritakan  pengalaman jemaat Makedonia, sebagai bahan
perbandingan buat mereka, sehingga hati mereka terbuka untuk memberi dengan
sukacita. Selanjutnya jemaat Korintus diarahkan kepada sumber yang menyebabkan
jemaat Makedonia sanggup melakukan melampaui dari kemampuan mereka, dan sumber
itu adalah kasih karunia.


 


       I.            Fakta yang terjadi di Jemaat Makedonia.


Apabila kita mengalami pencobaan  biasanya kita mengalami perasaan sedih, keadaan
ini bisa sampai meneteskan air mata, bahkan tidak  sedikit menjadi frustrasi. Ada satu syair
lagu seperti ini, ”Ada waktu di hidupku,
pencobaan berat menekan, aku berseru mengapa ya Tuhan, nyatakan kehendakMu
[1].  Ini keluhan seseorang yang  mengalami tekanan berat, yang mengalami
pergumulan, pencobaan yang membuat jiwanya merana, dan ia tidak tahu jalan
keluar. Hanya satu yang dapat ia pikirkan yang dapat memberi jalan keluar, tidak
lain hanyalah Tuhan. Pada saat seseorang  selagi dicobai dengan pelbagai penderitaan, dalam waktu yang
bersamaan  tidak mungkin mengalami
sukacita. Sebab penderitaan dengan sukacita tidak bisa hadir secara
bersamaandalam diri seseorang.


 Namun
kejadian yang kontroversi ini terjadi terhadap jemaat Makedonia. Pelbagai
penderitaan hadir secara bersamaan dengan sukacita, dan ini tidak masuk akal,
apalagi  terjadi bagi manusia yang masih
berpikir duniawi. Dunia tidak bisa memahami apalagi menerimanya. Akan tetapi
Firman Tuhan mencatat, mereka mengalami pelbagai penderitaan tetapi memiliki
sukacita yang meluap, dan walaupun mereka sangat miskin, tetapi kaya dalam
kemurahan. Keadaan ini hanya bisa terjadi hanya bagi orang yang percaya yang
sudah mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus, yang menurut aliran pentakosta
“lahir baru”.


A.       Mengalami  Pencobaan dalam Pelbagai Penderitaan – tetapi Sukacita mereka Meluap.


Manusia disebut
bersukacita, kalau pencobaan atau penderitaan dapat dihindarkan. Ini menurut
standart dunia. Akan tetapi ada keadaan  yang terjadi dan tidak masuk akal bagi umat Tuhan atas jemaat Makedonia
. Firman Tuhan berkata : “Selagi dicobai
dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun
mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan
.” (2 Kor 8:2)


Sukacita ini
bersumber dari supra natural yang memampukan setiap orang percaya sanggup
menjalani kehidupan dalam  sukacita
walaupun dalam pelbagai pencobaan dan penderitaan. Mereka mengenal Allah dengan
baik, baik dalam suka maupun duka, oleh karena itu keadaan yang menimpa mereka
tidak menjauhkan mereka dari Tuhan, justru sebaliknya semakin mendekatkan
mereka kepada Tuhan. Kedekatan hubungan dengan Tuhan menyebabkan sukacita
mereka “meluap”, tidak terbendung, dan sekeling mereka merasakan sukacita, dan
heran melihat kekuatan yang dimiliki umat Makedonia.


Pertanyaan yang
timbul. Darimanakah kekuatan yang mengakibatkan terjadinya sukacita yang
meluap-luap  itu atas jemaat Makedonia?
Ayat 1 menerangkan, ada “kasih karunia
yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.
” Dan inilah sebagai
motor penggerak atau “dunamos” sehingga mereka memiliki sukacita yang meluap walaupun
mereka di dalam pelbagai penderitaan. Kejadian ini sama seperti cuaca yang
panas terik tetapi tetap ada sumber kesejukan yang membuat kita selalu “fresh”
oleh karena ada satu alat yang dinamakan Air Condition yang disingkat AC. Air
Condition (AC)  memiliki dinamo yang
dapat memproduksi udara segar, walaupun cuaca di sekelilingnya sangat panas.
Dan inilah kelebihan orang yang mengalami pelimpahan kasih karunia,  mereka sanggup melakukan sesuatu yang dunia
tidak dapat lakukan.


B.        Meskipun mereka sangat Miskin, - tetapi  Kaya dalam Kemurahan.


Kalau jemaat - jemaat Makedonia
selalu mengalami sukacita dalam pelbagai penderitaan, mereka juga memiliki
kekuatan lain dalam kemurahan . Firman Tuhan menegaskan, “ meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan” (2 Korintus 8:2). Kemiskinan tidak sanggup menghalangi mereka untuk bermurah
hati, kemiskinan tidak mereka buat menjadi alasan untuk tidak memberi kepada
pelayanan Tuhan.


Jemaat Makedonia bukan hanya
miskin, tetapi sangat miskin. Paulus sengaja memilih istilah Bahasa Yunani, “hae kata  bathus ptoocheia,” artinya “kemiskinan yang sangat mendalam,”  untuk menggambarkan kemelaratan masyarakat
tersebut. Perlu dijelaskan keadaan kemiskinan ini terjadi secara menyeluruh,
bukan hanya jemaat-jemaat Makedonia yang mengalaminya.


Meskipun mengalami kemiskinan yang
sangat mendalam, mereka selalu giat dalam memberi, mereka dengan kerelaan hati untuk
meminta ambil bagian dalam pelayanan kasih, bahkan menurut Paulus bukan hanya
meminta tetapi  mendesak agar mereka
ambil bagian dalam pelayanan kasih tersebut. Alasan mereka adalah memberi itu
bukan beban melainkan menjadi salah satu ,”kasih karunia”. Jemaat Makedonia
mengerti dan memahami betul tentang kasih karunia Allah, mereka memahami bahwa
kasih karunia Allah adalah sumber yang melimpah atau “resources fullness” menyanggupkan
untuk memberi melebihi  kemampuan mereka.
Fakta yang dicatat Paulus adalah bahwa jemaat Makedonia  
memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan
melampaui kemampuan mereka.
” (2 Korintus
8:3). Kasih karunia inilah yang membebaskan orang yang telah mengalami
perjumpan pribadi dengan Yesus, terbebas dari cengkraman mamon.


Suatu ketika Yesus berkata kepada
perempuan Samaria tentang karunia Allah. “Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah
dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah[2] meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup
” (Yohanes 4:10). Kita perhatikan kata-kata
yang dipilih untuk kata kerja meminta dan memberikan. Kata “telah” dalam
ayat  tersebut di atas menerangkan bahwa
kasih karunia itu sudah ada dilingkungan kita, atau dengan kata lain bahwa itu
sudah diberikan Tuhan kepada manusia, namun
itu bisa terjadiatau dicicipi oleh orang yang mengetahui atau memahaminya
.
Yesus berkata “ Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah”. Kunci untuk
mengalami kasih karunia Allah,  kita
harus mengetahuinya. Arti kata “telah” menekankan kasih karunia ini sudah ada
di dunia saat kehadiran Yesus, namun realnya dapat kita peroleh pada saat kita telah
mengetahui atau memahaminya. Seandainya orang Samaria itu sudah lama memahami
karunia Allah, sejak saat itu juga pasti telah meminta kasih karunia itu bagi hidupnya.
Dengan demikian pengenalan atau persepsi kita tentang kasih karunia,
mempengaruhi tindakan kita dan sekaligus menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari.


    II.            Fakta Yang Terjadi di Jemaat Korintus


Jemaat Korintus berbeda dengan jemaat Makedonia. Jemaat
Makedonia sebagian besar adalah petani, sebaliknya jemaat Korintus sebagian
besar adalah pengusaha, pedagang, dan tukang yang berpendapatan lumayan. Paulus
mencoba membantu orang  Korintus
agar  mengetahui dan memahami kasih
karunia ini sehingga mereka memiliki kerelaan untuk memberi sesuai dengan
kesanggupan mereka. Paulus membujuk mereka, dan menekankan bahwa pemberian itu
hendaknya berdasarkan kerelaan dan sukacita. Dengan kata lain, pelayanan kasih
ini harus berdasarkan kasih karunia, sehingga ada daya ungkit untuk
menggerakkan hati mereka untuk memberi.


Paulus
meletakkan dasar pemberian dengan membentangkan tentang pengorbanan Yesus Kristus.
Paulus mencatat, “Karena kamu telah
mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena
kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena
kemiskinan-Nya
” (2 Kor 8:9). Paulus membandingkan jemaat Makedonia dengan
jemaat Korintus. Dengan merujuk kepada semangat orang Makedonia, Paulus ingin
orang-orang Korintus meniru semangat, sukacita, dan kerelaan mereka. Dalam ayat
tersebut di atas, dasar pemberian didasarkan atas pengorbanan Yesus yang tiada
taranya. Apapun alasannya, kita tidak dapat membalas kasih dan pengorbanan
Yesus kepada kita. Ia telah memberikan nyawa-Nya kepada kita demi keselamatan
kita. Oleh karena itu dasar pemikiran yang harus kita kembangkan adalah, bahwa
kita tidak dapat memberi lebih banyak dari pada yang kita terima.


Paulus
mengingatkan orang Korintus tentang  kekayaan yang mereka peroleh akibat pengorbanan Yesus. Jemaat Korintus
kaya dalam iman, kaya dalam perkataan, kaya dalam pengetahuan, dan kesungguhan
untuk membantu. Segala macam berkat sudah mereka terima akibat pengorbanan
Yesus, namun dalam konsep Alkitab kesempurnaan berkat yang mereka terima adalah
“ diberkati untuk memberkati”. Oleh karena itulah jemaat Korintus didorong oleh
Paulus untuk melaksanakan pelayanan kasih, untuk satu tujuan yang dalam istilah
Paulus agar terjadi  keseimbangan. Paulus
mencatat, “Sebab kamu dibebani bukanlah
supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.

( 2 Korintus 8:13). Prinsip keseimbangan ini sangat perlu diterapkan oleh orang
percaya, karena ini akan  melepaskan
manusia yang telah menerima kelimpahan berkat  Tuhan, menjaga diri sehingga dapat melepaskan
diri dari cengkraman mamon.[3]  Kita harus mempergunakan mamon sebagai alat
untuk mengikat persahabatan baik bagi sesama maupun untuk terhadap Tuhan.


 


 III.            Umat Allah Sebagai Pengelola Berkat Tuhan


Setiap
orang percaya yang telah menerima berkat dari Tuhan, menurut Alkitab Ia adalah sebagai
pengelola. Yesus memberikan sebuah perumpamaan tentang talenta untuk
menggambarkan hal kerajaan sorga. Yesus berkata,


"Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang
yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan
mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta,
yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut
kesanggupannya, lalu ia berangkat
[4].


 


 Talenta dalam perumpamaan di atas adalah
sesuatu yang kita terima dari Tuhan, ia bisa berupa bakat, bisa berupa karunia
Roh, atau berupa finansial yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Namun dalam hal
tulisan ini kita akan fokuskan, bahwa talenta ini adalah berkat finansial yang
kita terima dari Tuhan, yang sebagian akan kita persembahkan kepada Tuhan
sebagai ucapan syukur.


Dalam
perumpamaan ini, tuan itu mempercayakan hartanya kepada  ketiga hambannya menurut kesanggupan mereka.
Alkitab menyatakan bahwa tuan dalam perumpamaan ini adalah tuan yang baik dan
murah hati. Ia baik sekaligus murah hati. Ada orang, ia baik tetapi tidak murah
hati, dan sebaliknya Ia murah hati tetapi ia tidak baik. Kedua sikap inilah
yang mempengaruhi Tuan ini untuk memberikan modal kepada ketiga  hambanya. Kepada yang seorang lima talenta,
kepada yang seorang lagi dua dan kepada hamba yang satu lagi diberikan satu
talenta. Nats di atas menjelaskan kepada kita, bahwa tuan itu adalah seorang
pemberi, bukan pengambil. Ia juga orang yang murah hati, bukan orang yang pelit.
Fakta lain yang dapat kita temukan terhadap tuan dalam perumpamaan ini, bahwa
ia  adalah seorang yang  berpikiran positif terhadap ketiga hambanya
dengan cara memberikan kepercayaan. Dengan kata lain ia adalah seorang menejer
yang baik, positif dan paham tentang  pendelegasian wewenang.


Setelah
tuannya pergi, lama sesudah itu, ia meminta pertanggungjawaban terhadap  ketiga hambanya. Hamba yang menerima lima
talenta, mempertanggungjawabkan apa yang dipercayakan kepadanya, dengan menunjukkan
hasil usahanya, yang menghasilkan lima talenta. Demikian juga  hamba yang dipercayakan dua talenta,
memperoleh hasilnya dua talenta. Mereka sama-sama mendapat upah dan pujian yang
sama yakni “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia,
engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan
memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan
turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”[5]


Kepada
hamba yang menerima satu talenta, keadaannya sangat bertolak belakang. Ia
mengubur talenta yang dipercayakan kepadanya, dan pada akhirnya ia menerima
hukuman dari tuannya.Kalau bagi hamba yang lain kepercayaan dianggap sebagai
berkat, dan kesempatan untuk mengembangkan diri, bagi yang menerima satu
talenta ini, ia menganggapnya sebagai beban. Ia selalu berpikir dari segi
negatifnya, menganggap tuannya kejam, menuai dari apa yang tidak ditaburnya,
dan pandangan inilah yang mendorongnya untuk menyembunyikan talenta yang
dipercayakan kepadanya. Ia pandai menerapkan hukum tabur tuai kepada orang
lain, tetapi lupa menerapkannya terhadap dirinya sendiri. Begitulah orang yang
berpikiran negatif, ia selalu melihat dari konsep berpikir kecurigaan.  Jadi Tanggapannya terhadap tuannya
mendiktenya bagaimana memperlakukan kepercayaan yang diberikan kepadanya.


Pengertian
kita yang salah akan mempengaruhi tindakan kita menjadi salah. Sama seperti
hamba yang menerima satu talenta in, kepercayaan yang diberikan kepada kita,
kita anggap  sebagai alasan untuk
memperbudak kita, apabila kita menganggap Tuhan  sebagai orang yang kejam dan tidak
berperasaan. Kita selalu berpikir salah terhadap Allah, sampai kita lupa hukum
tabur tuai yang mengatakan “tidak ada panen kalau tidak menabur”. Kasih karunia
sudah dicurahkan kepada dunia dalam pribadi Yesus, kita punya kekuatan untuk
melakukan yang terbaik dan berguna untuk Tuhan, dan karunia yang diberikan
kepada kita adalah satu kesempatan untuk memperoleh berkat yang  luar biasa dari Tuhan. Kalau kita berpikir
salah tentang kasih karunia ini, maka kesempatan untuk berbuat atau berbuah
bagi Yesus akan hilang begitu percuma. Apabila kita menganggap setiap pemberian
kita terhadap Allah melalui jemaat, ataupun melalui orang yang percaya sebagai
beban, dan hal ini akan sulit kita lakukan.Oleh karena itu kita perlu
mengetahui kasih karunia, menerapkannya kepada diri kita sendiri, dan
berpatokan kepada pengorbanan Yesus kepada kita, maka memberi bukan menjadi
beban,  melainkan menjadi gaya hidup
kita.


 


 IV.            MANFAAT MEMBERI DALAM KASIH KARUNIA


Dari ulasan
terahulu kita dapat menarik beberapa manfaat apabila kita menetapkan hati kita
ntuk memberi dalam kasih karunia, sedikitnya ada empat hal yang akan kita
peroleh yakni:


Saudara-saudara, kami hendak
memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan
berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka
meluap
dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.Aku bersaksi, bahwa mereka telah
memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui
kemampuan mereka
. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak
kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.
Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia,
yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.


 


1.      Memliki Sukacita
yang Meluap.


2.      Kaya dalam
Kemurahan


3.      Memberi
melampaui kemampuan kita


4.      Memiliki
keinginan melayani orang-orang kudus


5.      Menjadi kaya
oleh karena Kemiskinan Yesus.


    V.            Kesimpulan.


Dari uraian di atas
maka kita dapat menarik beberapa kesimpulan  sebagai berikut:


1.      Dari  keadaan
jemaat Makedonia, memberi bukan didasarkan oleh keberadaaan seseorang,
melainkan  dorongan kasih karunia yang
dirasakannya, karena kasih karunia itulah sebagai “dunamos” atau kuasa untuk
menyanggupkan dia untuk memberi.


2.      Untuk menjadikan, memberi menjadi gaya hidup,
pertama-tama kita harus memberi diri kepada Allah, berkat yang kita terima
adalah  sebuah kepercayaan ( kita sebagai
pengelola saja) selanjutnya kepada para pelayan Tuhan, atau jemaat, dan
selanjutnya kepada setiap orang yang membutuhkan pertolongan.


3.      Pengorbanan Yesus harus menjadi tolak ukur untuk
memberi, apapun alasannya kita tidak bisa membalas kebaikan Tuhan, “Kita pasti
lebih banyak menerima dari pada yang kita berikan”


4.      Tidak akan ada
menuai kalau tidak pernah menabur.


Pdt. Drs. Pardomuan Simbolon, M.Th.
Gembala Sidang GPI Metropolitan Jakarta.


 







[1] Lagu ini dinyanyikan oleh VG. Yerikho




[2] Kata
“telah” menekankan bahwa kapanpun kasih karunia itu dikenal oleh setiap orang
yang percaya, maka ia akan mempengaruhi kehidupannya, dan memberikan kekuatan
atau kesejukan bagi setiap yang “meminumnya”. Karena kasih karunia Allah ini
sangat luar biasa, maka setiap orang yang mengetahuinya pasti memintanya.




[3] Mamon menurut defenisi
kamus Alkitab terbitan LAI adalah harta benda dan kekayaan yang dibayangkan
sebagai  oknum yang dapat mempengaruhi
kehidupan orang percaya untuk meninggalkan Tuhan.




[4] Matius 25:24-28




[5] Mat 25:21



Gereja Pentakosta Indonesia - Official Website : http://www.pentakosta.org/
Versi Online : http://www.pentakosta.org//?pilih=news&aksi=lihat&id=139