Oleh : Pdt. B. Sihombing (Gembala Jemaat GPI Sidang Waru - Sidoarjo)

Disampaikan di Medan, 9 Oktober 2011

 

Kisar Para Rasul 16: 19-31

19 Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa.
20 Setelah mereka membawa keduanya menghadap pembesar-pembesar kota itu, berkatalah mereka, katanya: ''Orang-orang ini mengacau kota kita ini, karena mereka orang Yahudi, 
21 dan mereka mengajarkan adat istiadat, yang kita sebagai orang Rum tidak boleh menerimanya atau menurutinya.''  
22 Juga orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka.  
23 Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh.  
24 Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat.  
25 Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.  
26 Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.  
27 Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri.  
28 Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: ''Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!''  
29 Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas.  
30 Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: ''Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?''  
31 Jawab mereka: ''Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.''

 

Pada saat perjalanan penginjilan Paulus ke Filipi, Paulus mendapat masalah yakni fitmah yang menyebabkan Paulus dan Silas harus dipenjara. Bukan hanya dipenjara, namun mereka harus didera dan kaki mereka harus dipasung. Menurut dunia hal ini merupakan sebuah penderitaan besar. Tapi yang dirasakan oleh Paulus dan Silas adalah rasa Sukacita dan Bahagia. Mereka malah senantiasa berdoa dan memuji-muji Tuhan. Rasa bahagia yang dimiliki oleh Paulus dan Silas adalah perasaan sukacita yang berasal dari Roh yang tidak dipengaruhi oleh suasana hati. Bagi orang percaya, kebahagian sejati bukanlah sesuatu yang berasal dari dunia, bukan sesuatu yang menyenangkan hati, namun kebahagiaan berasal dari Tuhan.

 

Namun saat mereka memuji Tuhan dan berdoa, maka Allah hadir di tengah-tengah mereka, seperti Firman Tuhan yang mengatakan bahwa dua atau tiga orang yang sehati berkumpul maka Tuhan hadir di tengah-tengah mereka. Saat-saat sekarang ini mungkin sering Hamba-hamba Tuhan berkumpul mengadakan pertemuan, saling berjabat tangan bahkan berpakaian seragam, namun jika tidak ada kesehatian maka Tuhan belum tentu mau hadir. Tapi kesatuan hati Paulus dan Silas membuat penjara terasa seperti sorga, di mana hadirat Tuhan hadir. Bahkan terjadi gempa bumi yang hebat sehingga pintu-pintu penjara terbuka. Sebenarnya mudah sekali kalau Paulus dan Silas mau kabur pada saat itu melihat kondisi penjara yang telah terbuka lebar. Biasanya kalau tahanan ingin merencanakan untuk melarikan diri mereka harus membuat rencana hebat seperti membobol tembok penjara atau menggergaji jeruji penjara. Namun Paulus dan Silas tidak meninggalkan penjara tersebut.

 

Ketika kepala penjara melihat pintu penjara telah terbuka serta mengira tahanan telah kabur, kepala penjara berfikir bahwa ia akan mendapat hukuman hebat sehingga ia memutuskan untuk bunuh diri. Hal ini justru menjadi sebuah kesempatan bagi Paulus untuk memberitakan nama Yesus. Kepala penjara mungkin merasa heran mengapa dalam penderitaan wajah Paulus dan Silas tidak menggambarkan wajah yang penuh penderitaan, wajah yang penuh tekanan, tapi selalu menunjukkan wajah yang penuh sukacita, sehingga hal ini menimbulkan ketertarikan baginya. Sehingga akhirnya bukan hanya kepala penjara yang diselamatkan, namun ia dan seisi rumahnya.

 

Mari kira senantia bersukacita dalam Tuhan, apapun keadaan, apapun masalah yang kita hadapi, hati kita harus tetap percaya bahwa Tuhan Yesus hadir untuk kita , membawa kebahagiaan dalam setiap kesesakan.

 

Kolose 3:15a : Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu

Ketika DAMAI SEJAHTERA selalu memerintah dalah hatimu, maka hidupmu akan selalu dipenuhi oleh sukacita yang dari Roh Kudus..Milikilah selalu damai sejahtera itu....

Tuhan Yesus Memberkati

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Kotbah" Lainnya

Malu

M A L U Rev. M.H. SIburian Rasa malu adalah salah satu alat kontrol yang mensensor kharakter manusia, kalau alat sensor ini rusak maka kara..... [Read more]




Kuasa Darah

  KUASA DARAH   Rev. MH. Siburian Manusia harus diselamatkan dari konsekwensi dosa. Caranya adalah dengan mengampuninya, namun pengampunan..... [Read more]




Berhala Baru

BERAHALA BARU Rev. M.H. Siburian   Negerinya penuh dengan berhala-berhala; mereka sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri dan kepada ya..... [Read more]




POWER LOOK: TEMPORER DAN BERUBAH-UBAH, BAHKAN MENGELABUI

POWER LOOK: TEMPORER DAN BERUBAH-UBAH, BAHKAN MENGELABUI Rev. MH. Siburian   Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengempang-ngem..... [Read more]




Domba Paskah

DOMBA PASKAH Rev. M.H. Siburian   DAN DARAH ITU MENJADI TANDA BAGIMU PADA RUMAH –RUMAH DIMANA KAMU TINGGAL:APABILA AKU MELIHAT DARAH ITU, ..... [Read more]