Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

 

Firman Tuhan di atas, dituliskan oleh Rasul Pulus kepada jemaat Korintus untuk memotivasi mereka agar memberi dengan sukacita. Paulus memulai dengan menceritakan  pengalaman jemaat Makedonia, sebagai bahan perbandingan buat mereka, sehingga hati mereka terbuka untuk memberi dengan sukacita. Selanjutnya jemaat Korintus diarahkan kepada sumber yang menyebabkan jemaat Makedonia sanggup melakukan melampaui dari kemampuan mereka, dan sumber itu adalah kasih karunia.

 

       I.            Fakta yang terjadi di Jemaat Makedonia.

Apabila kita mengalami pencobaan  biasanya kita mengalami perasaan sedih, keadaan ini bisa sampai meneteskan air mata, bahkan tidak  sedikit menjadi frustrasi. Ada satu syair lagu seperti ini, ”Ada waktu di hidupku, pencobaan berat menekan, aku berseru mengapa ya Tuhan, nyatakan kehendakMu[1].  Ini keluhan seseorang yang  mengalami tekanan berat, yang mengalami pergumulan, pencobaan yang membuat jiwanya merana, dan ia tidak tahu jalan keluar. Hanya satu yang dapat ia pikirkan yang dapat memberi jalan keluar, tidak lain hanyalah Tuhan. Pada saat seseorang  selagi dicobai dengan pelbagai penderitaan, dalam waktu yang bersamaan  tidak mungkin mengalami sukacita. Sebab penderitaan dengan sukacita tidak bisa hadir secara bersamaandalam diri seseorang.

 Namun kejadian yang kontroversi ini terjadi terhadap jemaat Makedonia. Pelbagai penderitaan hadir secara bersamaan dengan sukacita, dan ini tidak masuk akal, apalagi  terjadi bagi manusia yang masih berpikir duniawi. Dunia tidak bisa memahami apalagi menerimanya. Akan tetapi Firman Tuhan mencatat, mereka mengalami pelbagai penderitaan tetapi memiliki sukacita yang meluap, dan walaupun mereka sangat miskin, tetapi kaya dalam kemurahan. Keadaan ini hanya bisa terjadi hanya bagi orang yang percaya yang sudah mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus, yang menurut aliran pentakosta “lahir baru”.

A.       Mengalami  Pencobaan dalam Pelbagai Penderitaan – tetapi Sukacita mereka Meluap.

Manusia disebut bersukacita, kalau pencobaan atau penderitaan dapat dihindarkan. Ini menurut standart dunia. Akan tetapi ada keadaan  yang terjadi dan tidak masuk akal bagi umat Tuhan atas jemaat Makedonia . Firman Tuhan berkata : “Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.” (2 Kor 8:2)

Sukacita ini bersumber dari supra natural yang memampukan setiap orang percaya sanggup menjalani kehidupan dalam  sukacita walaupun dalam pelbagai pencobaan dan penderitaan. Mereka mengenal Allah dengan baik, baik dalam suka maupun duka, oleh karena itu keadaan yang menimpa mereka tidak menjauhkan mereka dari Tuhan, justru sebaliknya semakin mendekatkan mereka kepada Tuhan. Kedekatan hubungan dengan Tuhan menyebabkan sukacita mereka “meluap”, tidak terbendung, dan sekeling mereka merasakan sukacita, dan heran melihat kekuatan yang dimiliki umat Makedonia.

Pertanyaan yang timbul. Darimanakah kekuatan yang mengakibatkan terjadinya sukacita yang meluap-luap  itu atas jemaat Makedonia? Ayat 1 menerangkan, ada “kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.” Dan inilah sebagai motor penggerak atau “dunamos” sehingga mereka memiliki sukacita yang meluap walaupun mereka di dalam pelbagai penderitaan. Kejadian ini sama seperti cuaca yang panas terik tetapi tetap ada sumber kesejukan yang membuat kita selalu “fresh” oleh karena ada satu alat yang dinamakan Air Condition yang disingkat AC. Air Condition (AC)  memiliki dinamo yang dapat memproduksi udara segar, walaupun cuaca di sekelilingnya sangat panas. Dan inilah kelebihan orang yang mengalami pelimpahan kasih karunia,  mereka sanggup melakukan sesuatu yang dunia tidak dapat lakukan.

B.        Meskipun mereka sangat Miskin, - tetapi  Kaya dalam Kemurahan.

Kalau jemaat - jemaat Makedonia selalu mengalami sukacita dalam pelbagai penderitaan, mereka juga memiliki kekuatan lain dalam kemurahan . Firman Tuhan menegaskan, “ meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan” (2 Korintus 8:2). Kemiskinan tidak sanggup menghalangi mereka untuk bermurah hati, kemiskinan tidak mereka buat menjadi alasan untuk tidak memberi kepada pelayanan Tuhan.

Jemaat Makedonia bukan hanya miskin, tetapi sangat miskin. Paulus sengaja memilih istilah Bahasa Yunani, “hae kata  bathus ptoocheia,” artinya “kemiskinan yang sangat mendalam,”  untuk menggambarkan kemelaratan masyarakat tersebut. Perlu dijelaskan keadaan kemiskinan ini terjadi secara menyeluruh, bukan hanya jemaat-jemaat Makedonia yang mengalaminya.

Meskipun mengalami kemiskinan yang sangat mendalam, mereka selalu giat dalam memberi, mereka dengan kerelaan hati untuk meminta ambil bagian dalam pelayanan kasih, bahkan menurut Paulus bukan hanya meminta tetapi  mendesak agar mereka ambil bagian dalam pelayanan kasih tersebut. Alasan mereka adalah memberi itu bukan beban melainkan menjadi salah satu ,”kasih karunia”. Jemaat Makedonia mengerti dan memahami betul tentang kasih karunia Allah, mereka memahami bahwa kasih karunia Allah adalah sumber yang melimpah atau “resources fullness” menyanggupkan untuk memberi melebihi  kemampuan mereka. Fakta yang dicatat Paulus adalah bahwa jemaat Makedonia  memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.” (2 Korintus 8:3). Kasih karunia inilah yang membebaskan orang yang telah mengalami perjumpan pribadi dengan Yesus, terbebas dari cengkraman mamon.

Suatu ketika Yesus berkata kepada perempuan Samaria tentang karunia Allah. “Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah[2] meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup” (Yohanes 4:10). Kita perhatikan kata-kata yang dipilih untuk kata kerja meminta dan memberikan. Kata “telah” dalam ayat  tersebut di atas menerangkan bahwa kasih karunia itu sudah ada dilingkungan kita, atau dengan kata lain bahwa itu sudah diberikan Tuhan kepada manusia, namun itu bisa terjadiatau dicicipi oleh orang yang mengetahui atau memahaminya. Yesus berkata “ Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah”. Kunci untuk mengalami kasih karunia Allah,  kita harus mengetahuinya. Arti kata “telah” menekankan kasih karunia ini sudah ada di dunia saat kehadiran Yesus, namun realnya dapat kita peroleh pada saat kita telah mengetahui atau memahaminya. Seandainya orang Samaria itu sudah lama memahami karunia Allah, sejak saat itu juga pasti telah meminta kasih karunia itu bagi hidupnya. Dengan demikian pengenalan atau persepsi kita tentang kasih karunia, mempengaruhi tindakan kita dan sekaligus menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari.

    II.            Fakta Yang Terjadi di Jemaat Korintus

Jemaat Korintus berbeda dengan jemaat Makedonia. Jemaat Makedonia sebagian besar adalah petani, sebaliknya jemaat Korintus sebagian besar adalah pengusaha, pedagang, dan tukang yang berpendapatan lumayan. Paulus mencoba membantu orang  Korintus agar  mengetahui dan memahami kasih karunia ini sehingga mereka memiliki kerelaan untuk memberi sesuai dengan kesanggupan mereka. Paulus membujuk mereka, dan menekankan bahwa pemberian itu hendaknya berdasarkan kerelaan dan sukacita. Dengan kata lain, pelayanan kasih ini harus berdasarkan kasih karunia, sehingga ada daya ungkit untuk menggerakkan hati mereka untuk memberi.

Paulus meletakkan dasar pemberian dengan membentangkan tentang pengorbanan Yesus Kristus. Paulus mencatat, “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Kor 8:9). Paulus membandingkan jemaat Makedonia dengan jemaat Korintus. Dengan merujuk kepada semangat orang Makedonia, Paulus ingin orang-orang Korintus meniru semangat, sukacita, dan kerelaan mereka. Dalam ayat tersebut di atas, dasar pemberian didasarkan atas pengorbanan Yesus yang tiada taranya. Apapun alasannya, kita tidak dapat membalas kasih dan pengorbanan Yesus kepada kita. Ia telah memberikan nyawa-Nya kepada kita demi keselamatan kita. Oleh karena itu dasar pemikiran yang harus kita kembangkan adalah, bahwa kita tidak dapat memberi lebih banyak dari pada yang kita terima.

Paulus mengingatkan orang Korintus tentang  kekayaan yang mereka peroleh akibat pengorbanan Yesus. Jemaat Korintus kaya dalam iman, kaya dalam perkataan, kaya dalam pengetahuan, dan kesungguhan untuk membantu. Segala macam berkat sudah mereka terima akibat pengorbanan Yesus, namun dalam konsep Alkitab kesempurnaan berkat yang mereka terima adalah “ diberkati untuk memberkati”. Oleh karena itulah jemaat Korintus didorong oleh Paulus untuk melaksanakan pelayanan kasih, untuk satu tujuan yang dalam istilah Paulus agar terjadi  keseimbangan. Paulus mencatat, “Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.” ( 2 Korintus 8:13). Prinsip keseimbangan ini sangat perlu diterapkan oleh orang percaya, karena ini akan  melepaskan manusia yang telah menerima kelimpahan berkat  Tuhan, menjaga diri sehingga dapat melepaskan diri dari cengkraman mamon.[3]  Kita harus mempergunakan mamon sebagai alat untuk mengikat persahabatan baik bagi sesama maupun untuk terhadap Tuhan.

 

 III.            Umat Allah Sebagai Pengelola Berkat Tuhan

Setiap orang percaya yang telah menerima berkat dari Tuhan, menurut Alkitab Ia adalah sebagai pengelola. Yesus memberikan sebuah perumpamaan tentang talenta untuk menggambarkan hal kerajaan sorga. Yesus berkata,

"Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat[4].

 

 Talenta dalam perumpamaan di atas adalah sesuatu yang kita terima dari Tuhan, ia bisa berupa bakat, bisa berupa karunia Roh, atau berupa finansial yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Namun dalam hal tulisan ini kita akan fokuskan, bahwa talenta ini adalah berkat finansial yang kita terima dari Tuhan, yang sebagian akan kita persembahkan kepada Tuhan sebagai ucapan syukur.

Dalam perumpamaan ini, tuan itu mempercayakan hartanya kepada  ketiga hambannya menurut kesanggupan mereka. Alkitab menyatakan bahwa tuan dalam perumpamaan ini adalah tuan yang baik dan murah hati. Ia baik sekaligus murah hati. Ada orang, ia baik tetapi tidak murah hati, dan sebaliknya Ia murah hati tetapi ia tidak baik. Kedua sikap inilah yang mempengaruhi Tuan ini untuk memberikan modal kepada ketiga  hambanya. Kepada yang seorang lima talenta, kepada yang seorang lagi dua dan kepada hamba yang satu lagi diberikan satu talenta. Nats di atas menjelaskan kepada kita, bahwa tuan itu adalah seorang pemberi, bukan pengambil. Ia juga orang yang murah hati, bukan orang yang pelit. Fakta lain yang dapat kita temukan terhadap tuan dalam perumpamaan ini, bahwa ia  adalah seorang yang  berpikiran positif terhadap ketiga hambanya dengan cara memberikan kepercayaan. Dengan kata lain ia adalah seorang menejer yang baik, positif dan paham tentang  pendelegasian wewenang.

Setelah tuannya pergi, lama sesudah itu, ia meminta pertanggungjawaban terhadap  ketiga hambanya. Hamba yang menerima lima talenta, mempertanggungjawabkan apa yang dipercayakan kepadanya, dengan menunjukkan hasil usahanya, yang menghasilkan lima talenta. Demikian juga  hamba yang dipercayakan dua talenta, memperoleh hasilnya dua talenta. Mereka sama-sama mendapat upah dan pujian yang sama yakni “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”[5]

Kepada hamba yang menerima satu talenta, keadaannya sangat bertolak belakang. Ia mengubur talenta yang dipercayakan kepadanya, dan pada akhirnya ia menerima hukuman dari tuannya.Kalau bagi hamba yang lain kepercayaan dianggap sebagai berkat, dan kesempatan untuk mengembangkan diri, bagi yang menerima satu talenta ini, ia menganggapnya sebagai beban. Ia selalu berpikir dari segi negatifnya, menganggap tuannya kejam, menuai dari apa yang tidak ditaburnya, dan pandangan inilah yang mendorongnya untuk menyembunyikan talenta yang dipercayakan kepadanya. Ia pandai menerapkan hukum tabur tuai kepada orang lain, tetapi lupa menerapkannya terhadap dirinya sendiri. Begitulah orang yang berpikiran negatif, ia selalu melihat dari konsep berpikir kecurigaan.  Jadi Tanggapannya terhadap tuannya mendiktenya bagaimana memperlakukan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Pengertian kita yang salah akan mempengaruhi tindakan kita menjadi salah. Sama seperti hamba yang menerima satu talenta in, kepercayaan yang diberikan kepada kita, kita anggap  sebagai alasan untuk memperbudak kita, apabila kita menganggap Tuhan  sebagai orang yang kejam dan tidak berperasaan. Kita selalu berpikir salah terhadap Allah, sampai kita lupa hukum tabur tuai yang mengatakan “tidak ada panen kalau tidak menabur”. Kasih karunia sudah dicurahkan kepada dunia dalam pribadi Yesus, kita punya kekuatan untuk melakukan yang terbaik dan berguna untuk Tuhan, dan karunia yang diberikan kepada kita adalah satu kesempatan untuk memperoleh berkat yang  luar biasa dari Tuhan. Kalau kita berpikir salah tentang kasih karunia ini, maka kesempatan untuk berbuat atau berbuah bagi Yesus akan hilang begitu percuma. Apabila kita menganggap setiap pemberian kita terhadap Allah melalui jemaat, ataupun melalui orang yang percaya sebagai beban, dan hal ini akan sulit kita lakukan.Oleh karena itu kita perlu mengetahui kasih karunia, menerapkannya kepada diri kita sendiri, dan berpatokan kepada pengorbanan Yesus kepada kita, maka memberi bukan menjadi beban,  melainkan menjadi gaya hidup kita.

 

 IV.            MANFAAT MEMBERI DALAM KASIH KARUNIA

Dari ulasan terahulu kita dapat menarik beberapa manfaat apabila kita menetapkan hati kita ntuk memberi dalam kasih karunia, sedikitnya ada empat hal yang akan kita peroleh yakni:

Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

 

1.      Memliki Sukacita yang Meluap.

2.      Kaya dalam Kemurahan

3.      Memberi melampaui kemampuan kita

4.      Memiliki keinginan melayani orang-orang kudus

5.      Menjadi kaya oleh karena Kemiskinan Yesus.

    V.            Kesimpulan.

Dari uraian di atas maka kita dapat menarik beberapa kesimpulan  sebagai berikut:

1.      Dari  keadaan jemaat Makedonia, memberi bukan didasarkan oleh keberadaaan seseorang, melainkan  dorongan kasih karunia yang dirasakannya, karena kasih karunia itulah sebagai “dunamos” atau kuasa untuk menyanggupkan dia untuk memberi.

2.      Untuk menjadikan, memberi menjadi gaya hidup, pertama-tama kita harus memberi diri kepada Allah, berkat yang kita terima adalah  sebuah kepercayaan ( kita sebagai pengelola saja) selanjutnya kepada para pelayan Tuhan, atau jemaat, dan selanjutnya kepada setiap orang yang membutuhkan pertolongan.

3.      Pengorbanan Yesus harus menjadi tolak ukur untuk memberi, apapun alasannya kita tidak bisa membalas kebaikan Tuhan, “Kita pasti lebih banyak menerima dari pada yang kita berikan”

4.      Tidak akan ada menuai kalau tidak pernah menabur.

Pdt. Drs. Pardomuan Simbolon, M.Th. Gembala Sidang GPI Metropolitan Jakarta.

 



[1] Lagu ini dinyanyikan oleh VG. Yerikho

[2] Kata “telah” menekankan bahwa kapanpun kasih karunia itu dikenal oleh setiap orang yang percaya, maka ia akan mempengaruhi kehidupannya, dan memberikan kekuatan atau kesejukan bagi setiap yang “meminumnya”. Karena kasih karunia Allah ini sangat luar biasa, maka setiap orang yang mengetahuinya pasti memintanya.

[3] Mamon menurut defenisi kamus Alkitab terbitan LAI adalah harta benda dan kekayaan yang dibayangkan sebagai  oknum yang dapat mempengaruhi kehidupan orang percaya untuk meninggalkan Tuhan.

[4] Matius 25:24-28

[5] Mat 25:21

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Kotbah" Lainnya

Malu

M A L U Rev. M.H. SIburian Rasa malu adalah salah satu alat kontrol yang mensensor kharakter manusia, kalau alat sensor ini rusak maka kara..... [Read more]




Kuasa Darah

  KUASA DARAH   Rev. MH. Siburian Manusia harus diselamatkan dari konsekwensi dosa. Caranya adalah dengan mengampuninya, namun pengampunan..... [Read more]




Berhala Baru

BERAHALA BARU Rev. M.H. Siburian   Negerinya penuh dengan berhala-berhala; mereka sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri dan kepada ya..... [Read more]




POWER LOOK: TEMPORER DAN BERUBAH-UBAH, BAHKAN MENGELABUI

POWER LOOK: TEMPORER DAN BERUBAH-UBAH, BAHKAN MENGELABUI Rev. MH. Siburian   Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengempang-ngem..... [Read more]




Domba Paskah

DOMBA PASKAH Rev. M.H. Siburian   DAN DARAH ITU MENJADI TANDA BAGIMU PADA RUMAH –RUMAH DIMANA KAMU TINGGAL:APABILA AKU MELIHAT DARAH ITU, ..... [Read more]