MENGAPA JUDI

Rev. M.H. Siburian

Si pemalas dibunuh oleh keinginannya karena tangannya enggan bekerja. Keinginan bernafsu sepanjang hari, tetapi orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:25-26).

Hampir tidak ada tempat di Alkitab membela mereka yang malas dan yang hidup dalam angan-angan semata. Bekerja untuk makan dan minum adalah hukum Allah yang didesain untuk manusia, karena: “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (II Tesalonika 3:10). Hukumnya adalah sesederhana demikian. Manusia harus bergerak dan dinamis untuk hidupnya bahkan dengan berpeluh manusia akan mencari rezekinya (Kejadian 3:19). Pada hakekatnya semua manusia ciptaan Allah adalah ciptaan yang bergerak, dari atom yang tidak nampak oleh mata sampai alam jagat raya yang dengan setia bergerak menurut hukum alam yang telah ditentukan oleh Allah pada awal penciptaan. Bagi makhluk ciptaan dalam bentuk apapun, termasuk manusia, hukum bergerak buatan Allah tadi tetap berlaku.

Hukum ciptaan Allah itu menjadi pedoman kita untuk hidup karena dari pemenuhan akan hukum itulah kita dapat menggapai hakekat kita sebagai manusia ciptaan Allah. Hukum “bekerja untuk rezeki dan untuk makan” adalah suatu kepastian yang tidak dapat ditawar-tawar karena datangnya dari Allah dan menjadi dasar kita untuk meneruskan hidup sampai kita kembali menjadi debu tanah. Salah seorang Warga Negara bumi ini yang terkenal yaitu Raja Daud yang sampai pada kesimpulan bahwa Hukum (Taurat) yang Kau sampaikan adalah baik bagiku, lebih daripada ribuan keping emas dan perak (Mazmur 119:72). Itulah hukum rohani kita untuk rezeki, satu hukum Allah yang pasti dan kita akan bergantung kepada kepastian bukan kepada ketidakpastian. Kalau kita bekerja maka Allah tidak boleh tidak akan memenuhi hukumnya dengan serta merta. Ini telah dibuktikan oleh banyak bangsa di bumi ini sejak dahulu kala sampai sekarang. Hendaklah kita bijaksana mempelajari bagaimana beberapa bangsa-bangsa di dunia ini menjadi makmur dan terpelihara hidupnya karena senantiasa giat bekerja untuk rezeki dan makan minum mereka. Penyimpangan akan hukum ini dalam bentuk apapun itu akan beresiko kemelaratan pada akhirnya.

Judi menurut kamus Webster adalah tindakan meresikokan dan mempertaruhkan sesuatu kepada satu kejadian yang tidak pasti (the act of risking or staking anything on uncertain event). Satu tindakan yang sia-sia menggantungkan sesuatu yang kita miliki kepada sesuatu yang tidak pasti.

Judi bukan masalah legal atau ilegal, tetapi masalah Moral, kalaupun Judi dilegalkan itu bukanlah ia jadi bermoral. Sekarang orang banyak mencari pembenaran (justifikasi) dari sesuatu yang dianggap salah dengan melegalisir prostitusi, judi marijuana, bunuh diri, itu tidak akan membuat hal-hal tersebut menjadi tidak pelanggaran moral. Legalisasi bukan pembenaran Moral. Secara sederhana Judi adalah satu lubang kehausan yang tidak dapat dipuaskan, orang akan selalu memasangnya sampai dia pikir dia dapat “satu pukulan besar” tanpa memikirkan resiko kerugian dan kehilangan yang terus berkelanjutan yang pada akhirnya akan mengeram telur kejahatan yang sewaktu-waktu akan menetas. Kalau kita mau jujur pada diri kita, judi justru menyebarkan kemiskinan dan tidak pernah mengatasinya. Judi secara substansial memberikan kontribusi terhadap aliran finansial yang menyokong kepada elemen-elemen kriminal, korupsi di dalam satu bangsa. Dengan kata lain judi adalah usaha yang buruk yang menciptakan orang yang buruk yang bergerak kepada orang yang buruk lainnya sehingga hasilnya adalah keburukan semata.

Banyak yang mencoba menciptakan sisi baik dari judi, misalnya dengan memberikan bantuan-bantuan kemanusiaan atau sosial sebagai hasil judi tetapi itu adalah pakaian yang baik yang menutupi tubuh yang sakit suatu jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut (Amsal 16:25). Judi tidak mengenal batas, dia akan menghantam dan menghancurkan siapa saja yang menyentuhnya tidak perduli apakah dia orang kaya, miskin, berpendidikan, awam, tua, muda, laki-laki atau perempuan. Judi akan menggerogoti sampai tidak ada yang tertinggal dan tersisa dari apa yang kita miliki termasuk martabat kita sebagai manusia.

Kita memiliki Tuhan sebagai mempelai Pria yang akan memperhatikan dan merawat serta mengasihi kita sebagai mempelai yang senantiasa dipeliharanya dengan baik dan seksama. Kita tidak akan menggantungkan hidup pada kekosongan dan mengharapkan kepada sumber yang tidak pasti dan menghancurkan. Baiklah setiap orangtua berkata kepada anak-anaknya “jangan coba-coba memulainya.” Kita sadar betapa sulitnya mengawasi generasi muda dari judi-judi yang liar dan resmi, tetapi bagaimanapun usaha kita untuk menghindarkan bangsa ini dari kehancuran moral jauh lebih mulia.

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Kotbah" Lainnya

Malu

M A L U Rev. M.H. SIburian Rasa malu adalah salah satu alat kontrol yang mensensor kharakter manusia, kalau alat sensor ini rusak maka kara..... [Read more]




Kuasa Darah

  KUASA DARAH   Rev. MH. Siburian Manusia harus diselamatkan dari konsekwensi dosa. Caranya adalah dengan mengampuninya, namun pengampunan..... [Read more]




Berhala Baru

BERAHALA BARU Rev. M.H. Siburian   Negerinya penuh dengan berhala-berhala; mereka sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri dan kepada ya..... [Read more]




POWER LOOK: TEMPORER DAN BERUBAH-UBAH, BAHKAN MENGELABUI

POWER LOOK: TEMPORER DAN BERUBAH-UBAH, BAHKAN MENGELABUI Rev. MH. Siburian   Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengempang-ngem..... [Read more]




Domba Paskah

DOMBA PASKAH Rev. M.H. Siburian   DAN DARAH ITU MENJADI TANDA BAGIMU PADA RUMAH –RUMAH DIMANA KAMU TINGGAL:APABILA AKU MELIHAT DARAH ITU, ..... [Read more]