DARAH BERBICARA

Rev.M.H. Siburian

Dan kepada Yesus Pengantara Perjanjian Baru dan kepada Darah pemercikan yang berbicara lebih kuat daripada darah Habel (Ibrani 12:24).

Darah adalah kehidupan. Berbicara tentang Yesus adalah berbicara tentang darahNya, hubunganNya sangat lengkap. Menolak darah Yesus adalah menolak tubuhNya, menolak tubuhNya adalah menolak personalitasNya. Dan menolak PersonalitasNya yang Illahi adalah menolak pribadiNya dan dengan sendirinya menolak Bapa yang kekal yang telah mengutusNya. Yesus tidak boleh diterima sebahagian-sebahagian dari kelahiran sampai kematian hingga kebangkitan, kenaikan serta kedatangan kembali.


Tidak ada keselamatan tanpa penumpahan darah. Pada Perjanjian Lama, pada Hari Penebusan Dosa (the day of alonement), seorang Imam Besar akan membawa darah (yang diambil dari korban sembelihan) ke dalam satu baskom ke ruangan yang Maha Suci dari Tabernakel Musa (Kemah Suci) dan dengan tangannya memerciki tutup pendamaian di bawah sayap kerubim. Imam besar itu kemudian berdoa, maka dengan tiba-tiba Shekinah (cahaya kemuliaan Allah) datang. Imam besar itu kemudian ke luar dari kemah suci dan memberkati umat Israel. Dan mulai Imam Besar memberikan kurban sampai ia memercikkan darah di atas tutup pendamaian, tidak seorang pun diizinkan untuk menyentuhnya.


Kristus mencurahkan darahNya sendiri di kayu salib untuk penebusan. KematianNya adalah dengan sukarela untuk menjadi subsitusi kita. Dia menjadi pengganti bagi kita. Tempat itu seharusnya diisi oleh kita karena kitalah yang berdosa. Manusia harus di hukum, species tunggal ini berdosa maka semua harus dihukum. Dengan kata lain tidak ada seorang pun yang dapat diselamatkan. Itulah logikanya dan itu bukan tujuan Allah. Tujuan Allah adalah untuk menyelamatkan manusia itu sendiri. Dan itu harus dilakukan melalui prosedur Illahi, suatu tindakan yang legatisme. Yesus sebagai subsitusi, atas Dialah semua dosa itu ditutupi Allah. Darah yang tercurah di Kayu Salib berbicara tentang penebusan secara universal. Siapapun di dalam jagad raya ini tidak dapat menyangkalnya terutama Lucifer.


Darah inilah yang berbicara di Sorga dan di seluruh alam jagad raya ini. Melebihi darah Habel yang berbicara kepada Allah dari tanah dimana Kain saudaranya membunuhnya (Kejadian 4). Darah Habel berteriak hanya menuntut penegakan hukum dan keadilan untuk dirinya sendiri. Tetapi darah Yesus berbicara tentang semua umat manusia. Percikan darahNya bukan untuk diriNya sendiri, karena Gubernur Pilatus tidak menemukan kesalahan apapun atas orang ini, Yesus bertindak sebagai mediator di kayu salib. Mediator adalah pengantara yang berdiri mewakili ke dua pihak yang bertikai. Yesus mewakili Sorga. Dia datang dari Sorga dari tempat tinggi menjadi manusia yang absolut dengan semua atribut kemanusiaan. Di kayu salib Yesus mewakili manusia yang harus dihukum karena pelanggarannya. DarahNya menjadi darah korban yang disetujui Allah menjadi darah penebusan dosa. Darah Pendamaian. Di dalam Yesus Sorga dan bumi berdamai. Di dalam darah Yesus rekonsiliasi diproklamirkan.


Darah Yesus berbicara tentang pemenuhan semua klaim dari keadilan Illahi. Ini akan mengamankan justifikasi (pembenaran) kita. Semua prosedur Illahi dipenuhi, darah Yesus adalah bukti yang berbicara di sidang pengadilan bahwa kita telah dibebaskan dari hukuman. Bila Yesus dalam Yohannes 6:53 berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.” Kuasa kehidupan darah itu telah diimportasikan ke dalam hidup kita. Importasi itu sendiri telah dilaksanakan ole Roh Kudus, ketika kita menerima Yesus dan kita menerima semua kepenuhanNya, termasuk kematian, pencurahan darahNya. Dan ketika Dia bangkit dari kematian Dia naik ke Sorga ke tempat Yang Maha Kudus sebagaimana Imam Besar memasuki ruangan Maha Kudus di Tabernakel dengan membawa darah yang dipercikkan.


Paulus dengan jelas mengklarifikasi ini, dia berkata: “ sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat yang kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadapi hadirat Allah guna kepentingan kita. Dan Ia masuk bukan berulang - ulang mempersembahkan diriNya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat yang kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri, sebab jika demikian Ia harus berulang- ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diriNya pada zaman akhir untuk menghapus dosa oleh korbanNya (Ibrani 9:24-26).


Darah Yesus berbicara kepada Allah : “Ya Bapa ampunilah mereka.” Ia memohon kemurahan dan pengasihan Allah. Suara Perdamaian, suara yang terdengar ke alam jagad raya ini. Allah mendengarNya. Inilah suara yang senantiasa berbicara kepada Allah agar ada pengampunan dosa, pada setiap kali seseorang datang menerima Yesus. Begitu banyak suara di bumi ini yang berbicara tentang pengampunan dosa tetapi itu tidak pernah terdengar sampai ke Sorga. Itu jauh di bawah desibel pendengaran Allah. Hanya darah Yesuslah suara yang sangat jelas didengar sorga bila itu berbicara tentang pengampunan dosa. ( Diedit : St. Samuel Manalu )

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Kotbah" Lainnya

Malu

M A L U Rev. M.H. SIburian Rasa malu adalah salah satu alat kontrol yang mensensor kharakter manusia, kalau alat sensor ini rusak maka kara..... [Read more]




Kuasa Darah

  KUASA DARAH   Rev. MH. Siburian Manusia harus diselamatkan dari konsekwensi dosa. Caranya adalah dengan mengampuninya, namun pengampunan..... [Read more]




Berhala Baru

BERAHALA BARU Rev. M.H. Siburian   Negerinya penuh dengan berhala-berhala; mereka sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri dan kepada ya..... [Read more]




POWER LOOK: TEMPORER DAN BERUBAH-UBAH, BAHKAN MENGELABUI

POWER LOOK: TEMPORER DAN BERUBAH-UBAH, BAHKAN MENGELABUI Rev. MH. Siburian   Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengempang-ngem..... [Read more]




Domba Paskah

DOMBA PASKAH Rev. M.H. Siburian   DAN DARAH ITU MENJADI TANDA BAGIMU PADA RUMAH –RUMAH DIMANA KAMU TINGGAL:APABILA AKU MELIHAT DARAH ITU, ..... [Read more]